Dark/Light Mode

Di Tengah Isu Krisis Pangan

Stok Jagung Dan Beras Aman, Tak Jamin Rakyat Mampu Beli

Sabtu, 20 Agustus 2022 16:59 WIB
Diskusi bertema Tantangan Ketahanan Pangan Hadapi Krisis Global yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), dikutip Sabtu (20/8). (Foto: Istimewa
Diskusi bertema Tantangan Ketahanan Pangan Hadapi Krisis Global yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), dikutip Sabtu (20/8). (Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Isu kriris pangan global memunculkan kekhawatiran banyak negara. Namun kondisi itu diharapkan tidak membuat panik masyarakat Indonesia. Stok jagung dan beras di Tanah Air diklaim masih aman untuk beberapa waktu ke depan. Namun kondisi itu tidak menjamin seluruh masyarakat bisa membeli.

Ketua Umum Dewan Pakar DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Agus Pakpahan menyampaikan pandangannya terkait ketahanan pangan dari beragam sudut pandang.

Pertama adalah dimensi sumber daya yang memperlihatkan kapasitas atau luas lahan dan penerapan teknologi serta kapasitas kebijakan. Sehingga konteks ketahanan pangan di Indonesia diukur dari sumber daya yang diterjemahkan ke dalam kapasitas produksi. Ini untuk memenuhi kebutuhan aktual, buat memenuhi kalau ada resiko.

Baca juga : Anggota Komisi III Sesalkan Pelaporan Bambang Pacul Oleh Sahabat Mahfud

"Dan juga harus memenuhi kalau misal terjadi ketidakpastian. Seperti pandemi, perang Ukraina, tsunami atau macam bencana lainnya," ujar Agus dalam diskusi bertema Tantangan Ketahanan Pangan Hadapi Krisis Global yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dikutip Sabtu (20/8).

Kedua adalah dimensi jangka pendek. Dimensi ini, kata Agus, untuk mengukur bahan kebutuhan pokok lainnya secara menyeluruh. "Artinya, kalau kita lihat pada komoditas tertentu mungkin kita merasa tahan, tapi kalau totalitas belum tentu juga," bebernya.

Sementara dimensi ketiga, tambah Agus, adalah dimensi entitlement. Dimensi ini untuk mengukur bahwa keberlimpahan stok bukanlah jaminan masyarakat tidak kelaparan. Seperti yang terjadi di Bangladesh pada 1943.

Baca juga : Ganjar: Stop Praktik Buruk Dan Busuk Yang Rugikan Rakyat

"Kelaparan Bangladesh pada 1943 dimana kurang lebih 3,8 juta jiwa meninggal dunia bukan karena tidak ada makanan tapi tidak bisa membelinya. Atau kasus minyak goreng baru-baru ini," ungkapnya.

Adapun dimensi keempat adalah capability. Menurut Agus, ketahan pangan penting dilihat dari sudut pandang ini melalui global hunger index.

"Indonesia itu tertinggal dari negara maju lebih dari 50 tahun. GHI kita itu masih 18 poin. Kalau negara maju itu kurang dari 5 poin," pungkasnya.

Baca juga : Langkah Puan Maharani Kedepankan Safari Rakyat Dapat Pujian

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia mendapat penghargaan dari International Rice Institute (IRI) karena dinilai berhasil membuat sistem ketahanan pangan dan swasembada beras. Pemerintah Indonesia juga dinilai tangguh dalam penerapan inovasi teknologi pertanian.

Penghargaan diterima Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Minggu 14 Agustus 2022. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Rasio swasembada atau rasio antara produksi dalam negeri dengan total permintaan di Indonesia mencapai 90 persen lebih.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.