Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Di Tengah Isu Krisis Pangan
Stok Jagung Dan Beras Aman, Tak Jamin Rakyat Mampu Beli
Sabtu, 20 Agustus 2022 16:59 WIB
Sebelumnya
Kepala Divisi Pengadaan Komoditi Perum Bulog Budi Cahyanto menyebut, Indonesia berpeluang mengekspor jagung karena surplus tanaman pangan tersebut dapat mencapai sekitar 3 juta ton. "Untuk jagung ini Bulog memiliki rencana untuk ekspor," katanya.
Bulog sudah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Manila, Filipina. Di mana atase perdagangan di sana juga sangat peduli dan bisa membantu Bulog untuk bisa merealisasikan ekspor tersebut dalam waktu dekat.
"Jadi, Bulog polanya melakukan penyerapan dan pengadaan langsung jagung dari petani. Maka dalam waktu dekat kami ekspor jagung," tegasnya.
Hanya saja, kata Budi, memang tantangannya di komoditas jagung ini adalah kekurangan mesin pengering. Ketika panen secara bersama-sama, jagung biasanya mengalami proses suplai yang terlalu tinggi.
Baca juga : Anggota Komisi III Sesalkan Pelaporan Bambang Pacul Oleh Sahabat Mahfud
Sementara, jagung sendiri merupakan jenis tanaman pangan yang harus cepat dikeringkan. Pada periode berikutnya setelah panen, jagung biasanya mengalami suatu proses yang berisiko terkena jamur dan sebagainya.
Dengan demikian, pada saat yang sama pihaknya akan bergerak dengan menyerap sebanyak-banyaknya. Bulog sendiri ke depannya terus berupaya untuk menyiapkan diri terkait panen jagung dengan berinvestasi untuk memiliki fasilitas pengering jagung yang saat ini sedang dibangun.
"Tentu saja ini kita bisa revolving stoknya, sehingga pada saat yang sama ketika Indonesia mengalami kekurangan jagung maka Bulog sudah memiliki stok-stok jagung," kata Budi.
Sementara untuk stok beras dalam negeri dinilai cukup stabil. Bahkan, Budi menyebut Indonesia juga berpeluang untuk melakukan ekspor beras. "Untuk beras sendiri, saya pikir stoknya sangat kuat, sangat baik," kata Budi.
Baca juga : Ganjar: Stop Praktik Buruk Dan Busuk Yang Rugikan Rakyat
Saat ini, Budi menggatakan, stok beras di dalam negeri kurang lebih mencapai 1,1 juta ton. Jumlah ini, terangnya, sudah sesuai dengan ketentuan Food and Agriculture Organization (FAO) dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan).
Kemudian dia bilang yang direkomendasikan juga oleh para analis dari Universitas Gajah Mada (UGM), bahwa dengan jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 260 juta itu, RI paling tidak memiliki stok 1 sampai 1,5 juta ton.
"Kita ada jumlah stok yang cukup kuat. Masyarakat Indonesia diharapkan tidak perlu khawatir," katanya. Dengan kondisi demikian, Indonesia bahkan berpontensi melakukan ekpors beras ke negera-negara yang membutuhkan.
Namun, menurut Budi, beras-beras yang diekpor harus merupakan beras-beras varian khusus yang hanya ada di Indonesia. Seperti Pandan Wangi, Rojo Lele dan Mentik Wangi atau beras Mentik. Dimana beras ini tidak ditemukan di tempat lainnya di dunia.
Baca juga : Langkah Puan Maharani Kedepankan Safari Rakyat Dapat Pujian
"Kalau itu mungkin tantangan ke depan bagaimana Bulog bisa membuka peluang ekspor ke negara-negara yang memang membutuhkan," tambahnya.
Sekadar mengingatkan, Budi menambahkan, Indonesia merupakan produsen beras terbesar kedua di dunia. Posisi pertama ditempati China. Hanya saja, tambahnya, memang konsumsi beras di Indonesia cukup tinggi.
"Produksi pertama itu ada di China, kemudian yang kedua di Indonesia. Jadi menurut saya Indonesia memiliki potensi untuk untuk melakukan ekspor," paparnya pada forum yang sama. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya