Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bank Dunia Sarankan Indonesia Kurangi Subsidi BBM Dan Alihkan Ke BLT

Rabu, 28 September 2022 12:55 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Bank Dunia menyarankan pemerintah Indonesia mengurangi subsidi bahan bakar, seperti BBM dan LPG 3 kg. Bank Dunia menyarankan subsidi diganti transfer langsung, seperti bantuan langsung tunai (BLT).

Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia telah mengalokasikan anggaran ratusan triliun rupiah untuk memberikan subsidi BBM jenis Pertalite, Solar, dan minyak tanah.

"Rekomendasi kami untuk mengurangi subsidi bahan bakar dan mendorong investasi energi terbarukan, akan mengurangi paparan terhadap volatilitas harga bahan bakar fosil dan juga membantu negara-negara di kawasan memenuhi komitmen yang telah mereka buat untuk mengurangi emisi," kata Kepala Bank Dunia untuk regional Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo dalam media briefing, dikutip Rabu (28/9). 

Berita Terkait : Fadel Sayangkan Penelitian Perguruan Tinggi Banyak Belum Dimanfaatkan

Bank Dunia menyebut, negara yang memberikan subsidi energi bukan hanya Indonesia. Subsidi dinilai menimbulkan distorsi terhadap pilihan kebijakan dan membuat harga menjadi tidak jelas.

"Mereka tidak hanya memberikan dukungan kepada orang miskin yang membutuhkan tetapi juga kepada orang kaya dan mereka menarik sumber daya dari pengeluaran di bidang lain," tuturnya. 

Di Indonesia, Bank Dunia menyebut, pengalihan subsidi BBM menjadi bantuan tunai kepada masyarakat bisa menghemat anggaran 0,6 persen dari Produk Domestik bruto (PDB).

Berita Terkait : Bertemu Raja Sapta, Presiden IFSC Pastikan Indonesia Jadi Tuan Rumah World Cup 2023

"Jika semua uang yang dihabiskan untuk susbdi BBM malah dihabsikan untuk transfer tunai, anda mendapatkan pengurangan (kemiskinan) yang jauh lebih besar, dan itu karena transfer tunai bisa menyasar masyarakat miskin, itulah mengapa mereka jauh lebih efektif," beber Aaditya. 

Di Thailand, pemberian subsidi maupun pemberian bantuan langsung tunai sama-sama bisa membantu menekan angka kemiskinan.

Namun, pemberian subsidi barang lebih boros biaya, bahkan butuh anggaran lima kali lebih banyak daripada memberi bantuan tunai.

Berita Terkait : KJRI: Visa Umrah Jemaah Indonesia Tetap Gunakan Skema Bisnis

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, alokasi subsidi dan kompensasi untuk BBM tahun ini mencapai Rp 267,1 triliun dengan asumsi minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 100 dolar AS per barel.

Alokasi subsidi semula tidak mencapai Rp 50 triliun dengan asumsi 63 dolar AS per barel. Namun, kenaikan harga minyak dunia membuat alokasi meningkat. ■