Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
JK: Jangan Pesimis, Krisis Dunia Nggak Mesti Sambung-Menyambung
Rabu, 2 November 2022 22:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, HM Jusuf Kalla (JK) meyakini, KTT G20 Bali pada pertengahan bulan ini, akan menjalin persatuan dan kesatuan di antara negara-negara mampu dan kaya. Termasuk, Indonesia.
Mampu dari sudut ekonomi dan ukuran lainnya.
Namun, JK pun tak menampik, KTT G20 tahun ini berpotensi menjadi pertemuan yang paling dilematis. Mungkin juga, yang paling ribet.
"Tidak ada banyak hambatan, dalam beberapa pertemuan G20 terdahulu. Termasuk, yang terakhir di Argentina. Tetapi yang di Bali ini, tampaknya akan menghadapi banyak kendala. Terkait perang dan berbagai masalah perdagangan," kata JK dalam Diskusi Panel “Global Economy: Reflections and Challenges for Indonesia Post G20 Presidency” yang digelar Universitas Paramadina Jakarta dan Konrad Adenauer Stiftung, Rabu (2/11).
Contoh kendala perdagangan itu adalah pertentangan Amerika Serikat dengan Turki dan China. Juga Arab Saudi.
Putin bersengketa dengan negara-negara Eropa, sehingga terjadilah krisis ekonomi dunia belakangan ini.
Baca juga : Awal Ketegangan Politik Di Dunia Islam
Artinya, pertemuan G20 yang akan berlangsung nanti, tidaklah mulus.
Namun, kata JK, kita patut bersyukur karena pertemuan G20 itu akan dihadiri oleh semua negara anggota. Mulai dari kepala negara, dan tingkat menteri-menteri.
"Kita malah berharap, Indonesia bisa mendamaikan dengan baik, para kepala negara anggota G20. Misalnya, Putin dengan Biden. Walaupun pastinya, itu bukan hal yang mudah," tutur pri kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942.
Menurutnya, pertemuan lanjutan setelah G20 nanti, akan tergantung pada Putin sebagai kepala negara, apakah dia akan menghentikan perang atau tidak.
'Yang jadi dilema, jika Putin menghentikan perang, dia juga akan diberhentikan karena dianggap kalah," cetus JK, yang kini juga menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Saat ini, jika ada masalah perekonomian yang terkait inflasi dan krisis gandum serta energi, penyelesaiannya akan sangat tergantung pada perang Rusia dan Ukraina. Bakal berhenti atau tidak.
Baca juga : PUPR Gandeng Bank Dunia Atasi Kemiskinan Ekstrem Di Tangerang
"Jika bisa dihentikan, apakah gandum dari Ukraina yang memicu krisis pangan, bisa kembali diekspor? Begitu juga gas dari Rusia, apakah bisa kembali mengalir ke Eropa, dan negara yang membutuhkan? Sehingga, ekonomi dunia akan terhindar dari resesi berat dan sebagainya. Hal-hal itulah yang akan dihadapi oleh pertemuan G20 mendatang," papar JK.
Bagi Indonesia, ini tentu menjadi tantangan dan dilema tersendiri. Karena ketika Indonesia menjadi Presidensi G20, kebetulan pula konflik-konflik dan dilema antar negara itu terjadi.
Padahal, pertemuan G20 sebelumnya lancar-lancar saja dan banyak dicapai kesepakatan. Meski tak semua bisa disepakati, karena kepentingan tiap negara pasti berbeda-beda.
Yang harus disadari, pertemuan G20 sangat mempengaruhi perekonomian dunia. Karena faktanya, 60-70 persen ekonomi dunia dipengaruhi oleh negara-negara kuat anggota G20.
Otomatis, bila 60-70 persen ekonomi dunia terpecah, perekonomian internasional sudah pasti akan terganggu.
"Inilah yang menjadi pokok pertemuan G20. Apabila tidak dicapai kesepakatan untuk menghentikan perpecahan, maka ekonomi dunia akan tetap menghadapi risiko-risiko," ucap JK.
Baca juga : Inggris Jajaki Hadirkan Universitas Kelas Dunia Di Jabar
Dalam pandangannya, krisis ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19, relatif sudah teratasi. Jumlah pasien di rumah-rumah sakit dunia akibat Covid-19, telah jauh berkurang.
Itu artinya, ekonomi dunia pasca krisis Covid-19, sebetulnya mempunyai peluang perbaikan yang dapat diharapkan.
Namun, konflik-konflik antar negara saat ini, kembali menjadi tantangan baru perekonomian dunia.
"Tapi, untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dampak konflik antar negara saat ini, tidaklah seburuk di belahan dunia yang lain," tegas JK.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya