Dark/Light Mode

JK: Jangan Pesimis, Krisis Dunia Nggak Mesti Sambung-Menyambung

Rabu, 2 November 2022 22:12 WIB
Wakil Presiden RI ke-10 dan 12 Jusuf Kalla dalam diskusi panel yang digelar secara hybrid oleh Universitas Paramadina Jakarta dan Konrad Adenauer Stiftung, Rabu (2/11). (Foto: YouTube)
Wakil Presiden RI ke-10 dan 12 Jusuf Kalla dalam diskusi panel yang digelar secara hybrid oleh Universitas Paramadina Jakarta dan Konrad Adenauer Stiftung, Rabu (2/11). (Foto: YouTube)

 Sebelumnya 
Ramalan World Bank bahkan mengatakan, perekonomian Vietnam bisa tumbuh 7,5 persen, Filipina 7 persen, Malaysia 6,4 persen dan Indonesia 5 persen. Atau nomor 4 di lingkup ASEAN. 

Maknanya, Indonesia mempunyai peluang untuk menyusul kinerja perekonomian negara tetangga di ASEAN, di tengah krisis pangan dan energi dunia saat ini.

"Buktinya, Indonesia bisa mengisi kebutuhan dunia terhadap minyak sawit dan batubara, dengan harga yang naik tinggi. Ini menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi bagi pengusaha. Juga negara, yang mendapatkan keuntungan pajak ekspor hampir Rp 400 triliun, yang dapat membantu mengurangi defisit perekonoman. Bahkan, bisa surplus," terang JK.

"Jadi, sebetulnya, krisis di berbagai wilayah saat ini dapat memberikan peluang bagus, jika negara itu mampu untuk mengisi peluang-peluang yang ada. Vietnam saja, bisa memanfaatkan krisis dunia," imbuhnya.

Baca juga : Awal Ketegangan Politik Di Dunia Islam

Untuk itu, JK berharap, Indonesia bisa melakukan evaluasi. Agar momentum ini bisa menjadi peluang baik.

JK berpendapat, bagi Indonesia dan ASEAN, krisis dunia tidaklah berpengaruh banyak. Di Indonesia, tak ada masalah dengan energi.

Listrik PLN surplus. Harga batubara naik tinggi. Ditambah lagi, Indonesia juga baru saja mendapatkan penghargaan untuk swasembada pangan beras.

Fakta ini menjadi serangkaian bukti, bahwa Indonesia tidak terpengaruh oleh resesi dunia, yang sedang melanda negara-negara Eropa.

Baca juga : PUPR Gandeng Bank Dunia Atasi Kemiskinan Ekstrem Di Tangerang

"Kita jangan pesimis menghadapi situasi ini. Seolah olah krisis ini adalah krisis yang menjadi masalah besar bagi Indonesia," tandas JK.

Pengalaman lalu pada 2008, saat krisis subprime mortgage menyebabkan rontoknya perekonomian Amerika, Indonesia masih bisa selamat. Perekonomian masih bisa tumbuh 4,5 persen.

Meski saat itu turun dari 6 persen, dalam waktu satu tahun, Indonesia mampu bangkit lagi ke angka tersebut.

"Jadi, mari kita selalu optimis. Karena krisis ekonomi dunia, tidak berarti tersambung ke negara dan belahan lain dunia. Tidak seperti itu," tegas JK.

Baca juga : Inggris Jajaki Hadirkan Universitas Kelas Dunia Di Jabar

"Pengalaman krisis terdahulu, daerah-daerah penghasil komoditas di luar Jawa, malah memiliki kesempatan meraih keuntungan besar. Bahkan, bisa mengisi kebutuhan di pulau Jawa," pungkasnya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.