Dark/Light Mode

Dukung Kebijakan Pemerintah

Adaro Kebut Proyek Smelter Aluminium

Kamis, 11 Mei 2023 07:30 WIB
Presiden Direktur PT Adaro Minerals Indonesia Tbk Christian Ariano Rachmat (ketiga kiri), didampingi (dari kiri) Direktur Heri Gunawan, Direktur Wito Krisnahadi, Wakil Presiden Direktur Iwan Dewono Budiyuwono, Direktur Totok Azhariyanto, dan Direktur Hendri Tamrin memberikan keterangan pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2023 di Jakarta, Rabu (10/5/2023). (Foto: Khairizal Anwar/RM).
Presiden Direktur PT Adaro Minerals Indonesia Tbk Christian Ariano Rachmat (ketiga kiri), didampingi (dari kiri) Direktur Heri Gunawan, Direktur Wito Krisnahadi, Wakil Presiden Direktur Iwan Dewono Budiyuwono, Direktur Totok Azhariyanto, dan Direktur Hendri Tamrin memberikan keterangan pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2023 di Jakarta, Rabu (10/5/2023). (Foto: Khairizal Anwar/RM).

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mendukung program hilirisasi yang dicanangkan Pemerintah. Perusahaan ini memastikan proyek smelter aluminium berjalan sesuai rencana dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2025.

Proyek smelter yang tengah di­garap Adaro di Kalimantan Utara (Kaltara) ini diyakini mampu mengurangi impor aluminium.

“Kami sudah memulai aktivi­tas pra konstruksi untuk proyek smelter aluminium, dengan estimasi COD (Commercial Operation Date) tahap pertama kapasitas 500 ribu ton akan di­capai pada tahun 2025,” ungkap Direktur Adaro Minerals Indo­nesia Wito Krisnahadi seusai menggelar Rapat Umum Peme­gang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2022, di Ja­karta, Selasa (10/5).

Baca juga : Peringati Hardiknas, Pemerintah Perkuat Program Indonesia Pintar

Menurut Wito, kapasitas produksi sebesar 500 ribu ton hanya tahap awal. Kapasitas produksi sejatinya dapat dikerek hingga 1,5 juta ton per tahun.

Untuk memproduksi aluminium, papar Wito, perusahaan membutuhkan pasokan alu­mina sebanyak 1 juta ton per tahun. Dipastikannya, kebutuhan atau supply tersebut akan terpenuhi mengingat pihaknya telah meneken nota kesepahaman atau Memorandum of Un­derstanding (MoU) dengan sejumlah produsen alumina lokal dan pihak trader.

Hanya saja, finalisasi atau kepastian pasokan alumina untuk emiten berkode saham ADMR ini baru diketahui sekitar satu tahun, atau enam bulan sebelum waktu COD smelter tersebut.

Baca juga : Dirut Jadi Tersangka, Kegiatan Operasional Dan Keuangan Waskita Karya Tak Terdampak

“Sekitar 50 persen pasokan berasal dari lokal, sisanya dari trader. Tapi ini baru MoU karena COD smelter kami masih dua tahun lagi,” bebernya.

Ia meyakini, pasar yang solid dan kondisi harga yang positif pada 2022, memungkinkan perusahaan untuk mempercepat investasi pada bisnis mineral dan pengolahan mineral. Salah sa­tunya adalah untuk menangkap peluang ekonomi hijau.

Untuk itu manajemen mem­pertimbangkan untuk masuk ke segmen tersebut, karena pilihan terbaik saat ini adalah berin­vestasi pada pengembangan bisnis untuk memaksimalkan penciptaan nilai.

Baca juga : Ketua MPR Dukung Langkah Pemerintah Percepat Penyelesaian Papua

Di samping itu, kata Wito, manajemen menyadari peralihan dunia ke arah ekonomi hijau dan masa depan rendah karbon, yang perlu didukung dengan beberapa perubahan.

“Produk-produk kami me­mungkinkan perubahan-perubahan tersebut, dari batubara metalurgi untuk produksi bajasampai aluminium,” jelasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.