Dark/Light Mode

Dukung Kebijakan Pemerintah

Adaro Kebut Proyek Smelter Aluminium

Kamis, 11 Mei 2023 07:30 WIB
Presiden Direktur PT Adaro Minerals Indonesia Tbk Christian Ariano Rachmat (ketiga kiri), didampingi (dari kiri) Direktur Heri Gunawan, Direktur Wito Krisnahadi, Wakil Presiden Direktur Iwan Dewono Budiyuwono, Direktur Totok Azhariyanto, dan Direktur Hendri Tamrin memberikan keterangan pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2023 di Jakarta, Rabu (10/5/2023). (Foto: Khairizal Anwar/RM).
Presiden Direktur PT Adaro Minerals Indonesia Tbk Christian Ariano Rachmat (ketiga kiri), didampingi (dari kiri) Direktur Heri Gunawan, Direktur Wito Krisnahadi, Wakil Presiden Direktur Iwan Dewono Budiyuwono, Direktur Totok Azhariyanto, dan Direktur Hendri Tamrin memberikan keterangan pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2023 di Jakarta, Rabu (10/5/2023). (Foto: Khairizal Anwar/RM).

 Sebelumnya 
Sebagai gambaran, ADMR mengembangkan smelter alu­minium, melalui PT Adaro Indo Aluminium (AIA).

Kemudian, AIA mendirikan PT Kalimantan Aluminium In­dustry (KAI) pada 2022 dengan kepemilikan saham 65 persen untuk menjalankan proyek smelter aluminium di Kaliman­tan Utara.

Selain AIA, saham KAI dimi­liki PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sebanyak 12,5 persen dan Aumay Mining Pte. Ltd sebanyak 22,5 persen.

Di samping itu, proyek ini memi­liki kebutuhan investasi mencapai 2 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau setara Rp 29,4 triliun.

Baca juga : Peringati Hardiknas, Pemerintah Perkuat Program Indonesia Pintar

Namun, kebutuhan pendanaan tersebut terpisah dengan capital expenditure (capex) atau belanja modal reguler ADMR.

“Pembiayaan ada yang dari perbankan, cuma belum bisa kami ekspos sekarang, dari bank luar atau dalam negeri,” kilahnya.

Tidak Bagi Dividen

Di kesempatan yang sama, Presiden Direktur Adaro Minerals Indonesia Tbk, Christian Ariano Rachmat yakin pem­bangunan smelter aluminium tersebut, mampu mengurangi impor komoditas tersebut.

Baca juga : Dirut Jadi Tersangka, Kegiatan Operasional Dan Keuangan Waskita Karya Tak Terdampak

Ia menyebutkan, bila harga aluminium sebesar 2.500 dolar AS (Rp 36,8 juta ) per ton, maka dalam satu tahun Indonesia harus merogoh kocek hingga 2,5 miliar dolar AS (Rp 36,8 triliun) untuk impor produk tersebut.

“Kita jangan terus menerus jadi konsumen. Kita juga bisa jadi produsen. Impor itu (aluminium) hampir 1 juta ton. Kalau smelter ini selesai, kami yakin impor bisa berkurang,” ucapnya pede.

Selain soal smelter, RUPST menyepakati laporan tahunan dan keuangan konsolidasian ADMR untuk tahun buku 2022.

Menurutnya, kondisi pasar yang positif pada 2022 mem­berikan dukungan yang kuat bagi kinerja perusahaan.

Baca juga : Ketua MPR Dukung Langkah Pemerintah Percepat Penyelesaian Papua

“Kami dapat mencapai target dan meningkatkan profitabilitas, serta berfokus pada keunggulan operasional dan mempersiapkan perusahaan untuk pertumbuhan jangka panjang,” katanya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.