Dark/Light Mode

Di Pameran Manufaktur Jerman

Airlangga Cs Siap Tekan Uni Eropa Soal Kelapa Sawit

Kamis, 31 Oktober 2019 08:42 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, saat memimpin Rapat Koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (30/10). (Foto: Humas Kemenko Perekonomian)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, saat memimpin Rapat Koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (30/10). (Foto: Humas Kemenko Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah akan memanfaatkan pameran teknologi manufaktur terbesar dunia, Hannover Messe di Jerman 2020, untuk melawan Uni Eropa terkait diskriminasi produk sawit kita. 

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menjelaskan, di Hannover, Indonesia akan membawa isu sawit serta mendorong hubungan bilateral dengan negara-negara di Eropa.Khususnya untuk mengatasi permasalahan pelarangan sawit. 

“Di Hannover, akan diadakan hubungan bilateral dengan -Eropa. Dalam kesempatan itu, Indonesia juga akan memperbaiki citra produk sawit Indonesia di mata Uni Eropa yang selama ini dicap negatif,” kata Agus usai rapat koordinasi dengan Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya, kemarin. 

Baca juga : Pembagian Tugas Menko, Mahfud dan Airlangga Dapat 10, Luhut dan Muhadjir Kebagian 8

Pameran ini akan difokuskan pada isu terkait dengan industrial automation and IT (Industry 4.0), energy and environmental technologies, energy efficiency, research and technology transfer, robotics, cobots atau co-robots, dan isu terkini lainnya. 

Menurutnya, isu-isu ini cukup strategis sehingga di bidang perdagangan, ekspor dan perjanjian-perjanjian dagang harus di tingkatkan dengan Eropa. 

“Termasuk untuk komoditas sawit. Sehingga tidak ada diskriminatif lagi, karena potensi sawit sangat tinggi. Mungkin nanti ada program sustainable palm oil,” jelasnya. 

Baca juga : Negara Yang Masih Bergantung Migas Bakal Menderita

Airlangga menambahkan, Hannover Messe 2020 menjadi kesempatan Indonesia untuk mempromosikan terkait dengan kelapa sawit dan biofuel. 

“Ini jadi platform untuk kampanye di Eropa, terkait dari sustainability (keberlanjutan) kelapa sawit. Jadi di samping fokus pada 5 sektor manufaktur, kita juga promosikan keberlanjutan dari kelapa sawit,” ungkap Airlangga. 

Sebelumnya, Menlu LP Marsudi, memastikan di periode kedua Presiden Jokowi memprioritas diplomasi untuk permasalahan sawit dengan Uni Eropa. “Kelapa sawit Indonesia adalah hal fundamental karena menyangkut hajat kurang lebih 16 juta orang, khususnya petani kecil dan keluarganya,” ujar Retno. 

Baca juga : Pameran International Property Expo 2019 Diselenggarakan Serentak di 4 Kota

Menurutnya, sawit terus menjadi perhatian. Terutama setelah dalam Delegated Act Red II, Uni Eropa mengklasifikasikan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi. 

Konsekuensinya, konsumsi CPO untuk Bahan Bakar Nabati (BBN) ke Uni Eropa akan dibatasi pada kuota saat ini hingga 2023 mendatang. Selanjutnya, konsumsi CPO untuk BBN di Uni Eropa akan dihapuskan secara bertahap hingga menjadi nol persen pada 2030 nanti. [NOV]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.