Dark/Light Mode

Diterpa Isu Harga Tiket Mahal Dan Infrastruktur

Jumlah Penumpang Di Bandara Soetta Turun

Minggu, 22 Desember 2019 22:13 WIB
Suasana pengamanan Natal dan Tahun Baru di Bandara Soekarno-Hatta. Foto: Twitter @AngkasaPura_2
Suasana pengamanan Natal dan Tahun Baru di Bandara Soekarno-Hatta. Foto: Twitter @AngkasaPura_2

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Angkasa Pura II (Persero) mencatatkan jumlah penumpang di 16 bandara yang dikelolanya tahun ini menurun. Berdasarkan data, penurunan terbesar terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Angkanya jauh di bawah jumlah keseluruhan penumpang tiga tahun lalu. Hanya 54 juta penumpang.

Padahal, Soekarno-Hatta menyumbang 60 persen dari pergerakan penumpang di seluruh pergerakan di seluruh bandara AP II. 

Meski begitu, Presiden Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menyatakan pihaknya tidak akan menurunkan rencana investasi pada 16 bandara yang dikelolanya.

Berita Terkait : Industri Alami Turbulensi, Penumpang di Bandara AP ll Anjlok

Pada 2019, AP II telah mengalokasikan biaya investasi sebesar Rp 14 triliun. Dana ini digunakan untuk menyelesaikan 338 program maupun proyek bekerja sama dengan para vendor. Awaluddin mengatakan, Soekarno-Hatta akan menjadi bandara dengan nilai alokasi investasi terbesar dari perseroan.

Direktur Teknik AP II Djoko Murdjatmodjo menjelaskan penyebab turunnya jumlah penumpang karena harga tiket yang mahal dan banyaknya infrastruktur transportasi lain yang sudah terbangun, yakni Tol Trans Jawa dengan Tol Trans Sumatera.

"Di dalam penerbangan, tidak hanya satu penyebabnya di seluruh dunia pun pergerakan turun. Kita kena imbas karena adanya isu yang dihembuskan terkait harga tiket, bagasi berbayar,” katanya dalam keterangan kinerja akhir tahun AP ll di Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Minggu (22/12).

Berita Terkait : Runway 3 Telah Dioperasikan, Daya Saing Bandara Soetta Makin Kuat

Padahal, sejak dulu dalam penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC), bagasi memang tidak termasuk dalam komponen harga tiket. “Penerbangan LCC, bagasinya pasti berbayar. Komponen tarif itu tidak ada bagasi,” ujarnya.

Djoko melihat daya beli masyarakat juga berpengaruh karena adanya tiket mahal dan bagasi berbayar itu. Faktor lainnya, yakni membaiknya infrastruktur transportasi lain, seperti tol, terutama untuk penerbangan di wilayah Jawa.

“Di Jawa infrastruktur darat yang cukup membaik. Tol saat ini cukup tinggi. Di udara justru rendah. Di satu sisi kondisi memang bergerak,” jelasnya.

Berita Terkait : AP 1 Undang Pengusaha Reklame dan Ekspedisi Masuk Bandara YIA

Namun, Djoko optimistis permintaan akan terus tumbuh karena pertumbuhan penumpang pesawat di Indonesia dinilai lebih baik, yakni 4 persen dibanding negara lainnya yang hanya tumbuh 3 persen

Sementara, bandara AP II lain yang mengalami penurunan jumlah penumpang yang cukup besar, yakni Bandara Kualanamu. Yang turun 2,5 juta penumpang menjadi 7,9 juta penumpang sepanjang 2019 dari 10,4 juta penumpang sepanjang 2018. [KPJ]