Dark/Light Mode

Dolar 15 Ribu, Ekonomi Ngeri-ngeri Sedap

Selasa, 17 Maret 2020 08:18 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah akhirnya mencapai 15 ribu per dolar AS. Pandemi virus corona jadi biang kerok anjloknya mata uang kita. Kondisi ini membuat ekonomi kita ngeri-ngeri sedap.

Pada penutupan perdagangan di Bursa efek indonesia, kemarin sore, nilai tukar rupiah berada di level Rp 14.956 per dolar AS. Rupiah melemah 1,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp 14.818 per dolar AS. Yang mencapai Rp 15.000 ada di data per dagangan Reuters.

Hingga pukul 17 WiB kemarin, dolar AS tercatat bergerak di level Rp 14.710-15.049. Pelemahan rupiah terjadi signifikan sejak awal Maret 2020, atau sejak pertama kalinya Indonesia mengumumkan pasien positif virus corona. Padahal, sebelum itu, rupiah begitu perkasa terhadap dolar. Bahkan, sempat mencapai Rp 13.200 per dolar AS.

Pelemahan itu memang tidak hanya terjadi pada rupiah. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga loyo di hadapan dolar AS. Tercatat, Baht Thailand melemah 1,14 persen, Ringgit Malaysia 0,70 persen, dan Peso Filipina 0,60 persen.

Berita Terkait : Kejauhan, Dikaitin Ke Krisis Moneter 1998

Selanjutnya, Lira Turki turut 0,55 persen, Won Korea 0,53 persen, rupee India 0,48 persen, serta dolar Singa pura 0,45 persen. Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah, menyatakan, sentimen pasar masih sangat negatif karena pandemi corona belum jelas kapan bisa berakhir.

Tidak ada faktor yang benar-benar positif menenangkan pasar. Selama ketidakpastian masih begitu besar, rupiah akan terus dalam posisi tertekan.

“Intervensi BI juga ada batasnya. Pelemahan rupiah saat ini tidak batasannya. Semakin lama pandemi corona tidak tertangani, rupiah akan berpotensi terus melemah,” ujarnya, semalam.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai, faktor pelemahan rupiah bersumber dari kekhawatiran investor terkait memburuknya ekonomi karena wacana lockdown di beberapa tempat akibat wabah corona. “Virus corona masih menjadi faktor utama sentimen negatif investor,” ujar Bhima.

Berita Terkait : Nyungsep Lagi, Rupiah Menuju Rp 15.000

Di Jakarta, imbauan kerja dari rumah juga membuat rupiah kewalahan. “Justru pengurangan transportasi publik membuat masyarakat panik,” imbuhnya.

Selain itu, rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2020 ikut menjadi sentimen negatif. Kendati surplus, namun anjloknya impor bahan baku yang cukup dalam membuktikan kinerja sektor manufaktur tidak terlalu positif di awal kuartal 1 2020.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menilai, situasi virus corona semakin parah saat Presiden AS, Donald Trump, menyatakan darurat nasional, karena negara mencatat lebih dari 2.000 kasus dan 50 kematian.

Juga, dari keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan Covid-19 sebagai pandemi. Ini penyebab penurunan rupiah. Di sisi domestik, rilis BPS terkait NPI pada Februari 2020 yang mengalami surplus sebesar 2,34 miliar dolar AS. Rinciannya, angka ekspor mencapai 13,94 miliar dolar AS dan impor 11,60 miliar dolar AS.

Berita Terkait : Corona Mengganas, Rupiah Tambah Loyo

Rilis ini tidak berpengaruh signifikan terhadap penguatan rupiah. “Pasar kurang merespons surplus neraca perdagangan karena saat ini pemerintah sedang fokus penanganan virus corona yang sudah merebak di seluruh negeri sehingga perlu penanganan yang serius dari pemerintah,” imbuh dia.

Ibrahim memprediksi, rupiah berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp 14.940 hingga Rp 15.000 pada hari ini. Ekonom Indef lainnya, Eko Listiyanto, menyebut, depresiasi ini memang tidak ringan diatasi. [OKT]