Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Eksklusif Dengan Presiden Direktur PT Inalum, Budi Gunadi Sadikin
Jangan Cuma Jadi Pedagang, Bangun Juga Industri
Rabu, 6 Februari 2019 10:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Setelah Freeport kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, masih banyak rencana besar Pemerintahan Jokowi di urusan Pertambangan. Budi Gunadi Sadikin, Presiden Direktur PT Inalum, salah satu yang berusaha keras menerjemahkan cita-cita Presiden Jokowi ke dalam program-program strategis pembangunan di bidang tersebut.
Ini penting dikerjakan, sebab dampaknya sangat dahsyat. Pertumbuhan ekonomi bisa melompat dan problem defisit transaksi berjalan (current account defisit), yang selama ini jadi “ganjalan” di laporan keuangan negara bisa lenyap.
Baca juga : Pasca Freeport di Pangkuan Indonesia, What’s Next...
Budi Gunadi Sadikin ngobrol santai dengan tim Rakyat Merdeka, di penghujung Januari. Di kantornya, lantai 16 Energy Building, Kawasan SCBD Jakarta, Kamis (31/1) malam. Kantornya sederhana dan didesain modern minimalis. Ruang rapatnya di-set menyerupai tempat ngopi ala milenial dan sangat cozy.
Ditemani teh, kopi sambil dinner. dengan menu sate dan bakso, tema obroloan yang serius pun, jadi terasa lebih menyenangkan. Rakyat Merdeka hadir bertujuh. Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari, Sarif Hidayat, Firsty Hestyarini, Pandu Jati dan wartawan foto Khairizal Anwar.
Baca juga : Bahan Mentah Olah Di Sini Untuk Kebutuhan Kita
“Harusnya, bahan mentah yang kita pakai itu, bahan yang kita punya, tidak usah diekspor, olah di sini, untuk memenuhi kebutuhan kita. Tapi, kita malas membangun industri. Maunya cuma jadi pedagang dan cepat untung. Importirnya pedagang, eksportirnya juga pedagang. Tak ada yang mau membangun industri hilirisasi,” ujar Budi Gunadi dengan semangat. Inilah petikan wawancaranya.
Jadi, apa saja tugas dari Presiden, saat anda masuk ke Inalum?
Amanahnya ada tiga. Pertama, mengelola cadangan mineral strategis. Jadi, perusahaan-perusahaan tambang asing yang besar harus kita ambil alih. Selain Freeport, nanti ada lagi. Kedua, hilirisasi.
Baca juga : Waskita Beton Pede Kantongi Rp 1,31 T
Yaitu, melakukan gasifikasi batu bara menjadi DME (Dimethyl Ether, sebagai bahan bakar gas alternatif selain Elpiji-red). Membuat Bauksit menjadi Alumina, Copper menjadi Katoda, dan Nickel menjadi baterei.
Dan ketiga, amanah agar perusahaan tambang kita masuk ke kelas dunia. Itu semua ukurannya di Fortune 500. Untuk masuk ke list di situ, perusahaan mesti memiliki revenue minimal 21 miliar dolar AS. ***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya