Dark/Light Mode

Perkebunan Nusantara Target Produksi 1 Juta Ton

Semoga Harga Gula Bisa Segera Jinak

Jumat, 5 Juni 2020 08:14 WIB
Perkebunan  Nusantara Target Produksi 1 Juta Ton Semoga Harga Gula Bisa Segera Jinak

 Sebelumnya 
Diakuinya, dalam evaluasi tahun lalu, banyak hal yang harus dibenahi agar kinerja seluruh PTPN Gula dalam musim giling tahun ini bisa memberi kontribusi profitabilitas ke perseroan.

Ia berharap, terobosan dan strategi bisnis mampu menjawab tantangan menjamurnya pabrik gula swasta dan menurunnya areal tebu, serta situasi pandemi saat ini diharapkan tidak menghalangi pencapaian target produksi gula dalam musim tahun kali ini.

“Dengan adanya program revitalisasi berupa modernisasi dan penambahan kapasitas pabrik gula di grup PTPN, tahun ini merupakan momentum tepat untuk uji coba performa pabrik dalam memproduksi gula kristal putih untuk kebutuhan nasional,” harapnya.

Baca juga : Nekat ke Tanah Suci, Jamaah Haji Visa Khusus Bisa Kena Pidana

Secara konsolidasi, Holding Perkebunan Nusantara merupakan salah satu perusahaan perkebunan terbesar di dunia, berdasarkan total lahan konsesi perkebunan seluas 1,17 juta hektar.

“Data per 31 Maret 2020, areal tanaman PTPN III (Persero) dan anak perusahaan didominasi oleh tanaman kelapa sawit seluas 593.935 hektar, tanaman karet seluas 146.345 hektar, tanaman tebu seluas 62.583 hektar serta areal teh 30.512 hektar,” bebernya.

Impor gula Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menyesalkan harga gula masih tetap tinggi di pasaran.

Baca juga : Semoga Harga Gula Bisa Segera Jinak

Hal ini terlihat berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Nasional (PIHPS), sejak awal April hingga Juni, harga gu￾la fluktuatif berada di kisaran Rp 18 ribu per kg. Sempat turun tipis ke Rp 17 ribu per kg, naik lagi dan hingga kini masih berada di angka Rp 17.250 per kg.

Artinya, angka ini melampaui HET yang ditetapkan pemerintah yaitu sebesar Rp 12.500 per kg.

“Pemerintah perlu mengevaluasi pengurusan izin impor untuk gula, mengingat banyaknya prosedur yang harus dilalui untuk mendapatkan izin impor,” katanya kemarin.

Baca juga : Emak-emak Keluhkan Harga Gula Pasir Tinggi Di Pasaran

“Semua proses impor, dapat berlangsung dalam waktu yang tidak singkat, antara satu hingga tiga bulan,” sambungnya.

Karena panjangnya proses impor, tidak jarang dapat membuat Indonesia kehilangan kesempatan untuk mengimpor saat harga internasional sedang murah. Bahkan, kalau dikaitkan dengan pandemi Covid-19, Indonesia tentu tidak menyangka negara-negara sumber impor gula, misalnya India, sudah membatasi bahkan melarang adanya kegiatan ekspor akibat adanya kebijakan karantina wilayah.

“Kalau prosesnya lebih sederhana, realisasi impor gula tentu akan lebih cepat dan harga akan tetap stabil,” imbaunya. [IMA]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.