Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
%
Ganjar & Mahfud
Waktu |

Pelatihan Profesional Didatangkan Dari Pekalongan

Antero Batik Mimpikan Kain Sarung Mendunia

Senin, 18 Februari 2019 08:59 WIB
Romi Oktabirawa (kanan) bersama seorang pegawainya saat memamerkan salah satu produk sarung batiknya. (IST)
Romi Oktabirawa (kanan) bersama seorang pegawainya saat memamerkan salah satu produk sarung batiknya. (IST)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penggunaan kain sarung mulai banyak ditinggalkan kaum milenial. Dalam menjaga kelestarian kain khas tradisional ini, pemerintah bakal menggelar pameran dan festival sarung Indonesia pada Maret mendatang, dengan menghadirkan seribu jenis sarung. Diakui Direktur Utama Smesco Indonesia Emilia Suhaimi, pameran ini beranjak dari keprihatinan atas industri sarung dalam negeri dan budaya khas Indonesia yang mulai ditinggalkan.

Gelaran Festival Sarung Indonesia merupakan gerakan nasional yang didukung sembi- lan kementerian dan lembaga. Emilia bilang, kain sarung merupakan produk budaya khas Indonesia, yang lambat laun mulai ditinggalkan, khusus oleh generasi milenial. Karena itu, festival dan pameran sarung akan melibatkan kalangan anak muda.

“Tujuannya, agar event ini mampu mentransformasi sarung sebagai trendsetter serta gaya hidup modern bagi generasi milenial. Festival Sarung Indo- nesia ini juga akan ikut mendorong pemberdayaan ekonomi ke- rakyatan, khususnya para UKM perajin sarung Indonesia,” kata Emilia di Jakarta, Kamis (14/2). Dia ingin, sarung sebagai bagian dari budaya khas negeri ini tidak terkesan kolot, tradisional, dan kampungan. Oleh karena itu, produk sarung harus mengikuti tren dan mode yang mengikuti selera generasi milenial.

Baca juga : Ternyata, Pertemuan James Riady & Bupati Bekasi Terencana

“Sekarang bagaimana mendekatkan sarung yang tadi kesannya kolot, kuno, pakainya cuma di rumah, buat salat ke masjid, berubah menjadi gaya hidup milenial, disukai kalangan anak muda,” sebutnya.

Dalam festival tersebut, Emilia menjelaskan, rangkaian kegiatannya meliputi pasar rakyat, pameran sarung, fashion on the street berbasis sarung, karnaval sarung, dan seminar dan serase- han sarung.

Puncak acara ditandai dengan pencanangan Hari Sarung Nasional dan peresmian Rumah Sarung Indonesia (Rusari). Rusari sendiri, katanya, akan berada di Gedung Smesco Indonesia. Dengan harapan menjadi sarana edukasi, promosi dan pemasaran sarung-sarung unggulan dari berbagai provinsi, dan menjadi pusat koleksi dan referensi terbaik untuk mendapatkan sarung-sarung unggulan.

Baca juga : Luncurkan KA Galunggung, KAI Gratiskan 30 Hari

Salah satu perajin kain sarung dan batik asal Pekalongan, Jawa Tengah, Romi Oktabirawa (38) sependapat dengan Emilia. Menurutnya, agar sarung tak ditinggalkan, perlu ada inovasi supaya bisa diterima di pasaran, terutama di kalangan anak muda zaman sekarang. Seperti yang dilakukan usahanya melalui brand Antero Batik, berbagai jenis produk dari kain sarung bisa digunakan untuk segala usia, semua jenis kelamin dan kalangan. Jadi sarung juga tidak hanya digunakan untuk beribadah, tidur dan ronda saja.

“Kalau di Jepang saja punya kimono, China punya Cheong- sam, mengapa Indonesia tidak bisa terkenal dengan sarungnya. Saya punya mimpi untuk membuat sarung batik terkenal di seluruh dunia,” kata Romi saat dihubungi Rakyat Merdeka.

Sebenarnya, sambung Romi, sarung juga sudah menjadi fesyen di kalangan masyarakat, bahkan sudah banyak yang menggunakan sarung di mall-mall. Di gerai Antero Batik miliknya, Romi menawarkan sarung berbahan katun seharga Rp 150 ribu berukuran 220 x 120 cm. Selain sarung, Romi juga menjual aneka kain batik tulis, termasuk yang berbahan sutra ukuran 2,7 meter seharga Rp 3,5 juta.

Baca juga : Mohammed Salah Kembali Dinobatkan Jadi Pesepakbola Terbaik Afrika

Dari bisnis sarung dan kain batik ini, Romi bisa meraup omzet rata-rata Rp 50 juta dalam sehari. Untuk produknya, merupakan produk yang bergaransi memiliki stiker hologram khusus yang menjamin keaslian batiknya, yang diproses meng- gunakan lilin panas baik dengan teknik dilukis menggunakan canting atau dicap.

“Hologram itu supaya ter- hindar dari pedagang-pedagang nakal yang kurang jujur, yakni mereka menjual tekstil bermotif batik, namun mengaku menjual batik asli. Selain itu, untuk memberikan kepuasan pelanggan dengan memberikan jaminan asli pada batik yang mereka beli,” tutupnya.[DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.