Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sembari Nunggu Dana Talangan Rp 8,5 Triliun Cair
Kursi Garuda Angkut Perabotan Masyarakat
Rabu, 15 Juli 2020 06:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sangat membutuhkan dana talangan sebesar Rp 8,5 triliun. Dana tersebut rencananya akan dipakai untuk modal kerja perseroan di tengah kondisi pandemi.
Sembari menanti cairnya dana tersebut, maskapai memutuskan menggenjot bisnis kargo.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjelaskan, selama kondisi pandemi aktivitas maskapai terhenti hingga 90 persen.
Inisiatif yang dilakukan Garuda agar tetap bertahan adalah meminta izin kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub), untuk memanfaatkan pesawat yang ada sebagai angkutan kargo yang berisikan berbagai perabotan masyarakat atau perusahaan-perusahaan.
“Dengan izin yang sudah ada itu, kami bisa menjalankan bisnis kargo,” kata Irfan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, kemarin.
Menurut dia, bisnis kargo dijalankan supaya burung besi itu bisa terus melanjutkan ‘napasnya’. Irfan mengklaim bisnis ini lumayan bisa mendorong aktivitas penerbangan, meski angkanya tidak sebesar angkutan penumpang di waktu normal.
Namun demikian, layanan angkutan kargo ini tidak memanfaatkan pesawat khusus. Irfan mengaku menggunakan pesawat yang tersedia, karena yang penting barang sampai tepat waktu.
Baca juga : Ridwan Kamil Tunggu Rp 2,6 Triliun Untuk Cegah Covid-19 Di Pesantren
“Garuda itu kan ada ruangan atas dan bawah. Kalau bawah biasanya untuk barang. Nah ini kami pakai yang bawah untuk barang. Tapi yang atas juga bisa buat barang,” ucapnya.
“Sampai kursi penumpang juga kami isi barang. Di atas kursi sepanjang kabin juga diisikan barang. Kami tetap berhati-hati agar kursi tidak rusak, karena yang boleh diangkut di atas kursi beratnya tidak lebih dari 70 kilogram,” imbuh Irfan.
Menurutnya, sebuah perusahaan maskapai seharusnya memiliki pesawat khusus untuk kargo. Garuda sudah memiliki rencana beberapa waktu lalu. Tapi sayang, rencana itu belum sempat terwujud karena perusahaan keburu dihantam pandemi corona.
“Seharusnya tahun ini kami sudah punya pesawat kargo. Kami rencanakan ada dua. Tapi karena kondisi finansial seperti ini, maka kami tidak bisa adakan pesawatkhusus kargo,” terangnya.
Dia tidak mengatakan seberapa besar keuntungan dari bisnis kargo, tapi yang pasti bisnis ini cukup membantu keuangan perseroan.
Apalagi mengingat pesatnya industri e-commerce di Indonesia, menjadikan sektor layanan logistik memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan masyarakat akan layanan pengiriman barang secara cepat, tepat, dan efisien.
Selain itu, pihaknya menempuh inisiatif lain untuk bertahan di situasi pandemi Covid-19. Yaitu menawarkan program pensiun dini kepada karyawan dengan usia di atas 45 tahun.
Baca juga : KPK Harusnya Iri dan Malu
“Tawaran ini adalah pensiun dini sukarela. Kami berikan jasa konsultasi. Dalam catatan kami sudah hampir 400 karyawan Garuda mengambil program pensiun dini,” ungkapnya.
Semua ini dilakukan sembari menantikan munculnya dana talangan sebesar Rp 8,5 triliun. Dia berharap dana itu bisa cepat cair agar dialirkan untuk operasional perusahaan.
“Kami harapkan cair tahun ini. Mengingat Garuda membutuhkan untuk menjaga operasional perusahaan. Hal itu karena okupansi pun masih rendah akibat virus ini,” tuturnya.
Dia bilang dana talangan tersebut akan bermanfaat besar untuk membantu kelancaran arus kas perusahaan. Nantinya dengan arus kas lancar bisa memberi efek positif bagi kinerja perusahaan.
Namun Irfan meminta bentuk dana talangan itu berupa Mandatory Convertible Bond (MCB). Hal ini untuk menjaga likuiditas dan solvibilitas Garuda Indonesia di 2020 hingga 2021.
Selain itu, MCB diusulkan dengan tenor tiga tahun untuk memberikan waktu dan kesempatan kepada manajemen yang baru di tunjuk pada 22 Januari 2020 ini.
Sekaligus untuk memperbaiki fundamental revenue dan cost perusahaan. Sehingga maskapai menjadi lebih efektif dan efisien dalam menjalankan kegiatan usahanya.
Baca juga : Peringatan Ulang Tahun IPI, Kepala Perpusnas Ingatkan Janji Pustakawan
Hingga saat ini dana talangan tersebut belum diketahui kapan cairnya.
Pengamat Penerbangan Alvin Lie menilai, keputusan maskapai untuk berinisiatif genjot bisnis di luar traffic penumpang adalah langkah paling tepat.
“Memang maskapai tidak bisa saat ini berharap besar pada traffic penumpang saja. Apalagi sampai berharap beberapa bulan lagi ada turis asing yang berkunjung untuk wisata,” katanya.
Alvin menyarankan agar perusahaan pengelola bandara bisa memaksimalkan lini bisnis yang masih berjalan di luar sektor penerbangan.
Bisa juga untuk menggenjot anak usaha di luar penerbangan.
“Paling cepat diprediksikan hingga akhir 2021. Selama belum ada vaksin, belum ada obat atau bahan untuk menyembuhkan orang yang terinfeksi Covid-19, akan sulit BUMN penerbangan ini pulih kembali,” katanya. [JAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya