Dark/Light Mode

Nasabah Asuransi Unit Link Keluhkan Saldo, AJJI: Polis Itu Investasi Jangka Panjang

Kamis, 30 Juli 2020 06:44 WIB
Asuransi unit link/Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Asuransi unit link/Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nasabah sejumlah perusahaan asuransi belakangan ini ramai mengeluhkan saldo polis unit link yang dimiliki. Sebagian kecewa karena nilai polisnya mengalami penurunan signifikan. 

Nani, salah satu nasabah asuransi unit link terkemuka, mengaku kecewa. Melalui akun Twitter, dia mengeluhkan, sepanjang enam tahun kepesertaannya di asuransi tersebut, saldo investasinya hanya tersisa Rp 19 juta. “Saya sudah ikut polis selama 6 tahun 2 bulan, dengan pembayaran premi Rp 500 per bulan, perkiraan nilai yang sudah disetor Rp 37 juta. Kemarin tutup polis cuma dapat Rp 19.950.000,” keluhnya.

Keluhan serupa juga dilontarkan nasabah Yupi Zilina, nasabah asuransi unit link terkemuka lainnya, di Facebook. Dia mengeluhkan, saat ingin berhenti setelah sembilan tahun menjadi nasabah, saldo yang tersisa hanya sekitar Rp 16 juta. Jumlah itu jauh di bawah total premi yang sudah dibayarkannya sebesar Rp 38 juta lebih.

Baca Juga : Kang Emil Layak Jadi Panutan

Sebenarnya, masih banyak keluhan yang diajukan nasabah asuransi lainnya. Bahkan, sebagian nasabah berinisiatif membentuk grup di Facebook, sebagai tempat saling bertukar informasi. 

Umumnya, nasabah unit link dari berbagai perusahaan asuransi itu merasa tertipu setelah mengetahui saldo investasinya turun drastis. Mereka mengaku tidak mengetahui bahwa produk asuransi yang dibeli adalah produk proteksi yang dikaitkan dengan investasi.

Seperti diketahui, sebagian besar produk unit link yang dipasarkan sejumlah asuransi, saat ini mengalami penurunan kinerja dan imbal hasil investasi. Hal itu dipicu turunnya nilai saham dan portofolio investasi lainnya yang menjadi underlying produk asuransi unit link. Lembaga riset reksa dana Infovesta mencatat, nilai dana kelolaan (asset under management/AUM) dari reksa dana Indonesia turun sebanyak Rp 53,28 triliun secara month to month (mtm), dari akhir Februari 2020 ke akhir Maret 2020. Penurunan nilai AUM terbesar ini terjadi pada produk reksa dana indeks dengan penurunan sebesar 24,64 persen mtm.

Baca Juga : Bayern Munchen Vs Marseille, Mengukur Stamina

Penurunan AUM terbesar kedua terjadi pada reksa dana pasar uang, di periode yang sama nilainya turun sebesar 20,70 persen. Penurunan terbesar ketiga terjadi pada AUM reksa dana saham yang menguap sebesar 17,70 persen. Penurunan di berbagai poetofolio investasi turut berpengaruh terhadap produk proteksi sekaligus investasi, yakni asuransi unit link. Pasalnya, berbagai produk investasi seperti saham, obligasi, hingga reksa dana menjadi underlying dari unit link.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sebenarnya tidak tinggal diam. Ketua AAJI Budi Tampubolon menuturkan, investasi di tengah perlambatan ekonomi seperti saat ini akan mengalami penurunan nilai signifikan, terutama untuk asuransi berbalut investasi berbasis saham. “Pilihan investasi ada beberapa yang dalam kondisi saat ini kinerjanya turun. Apalagi kalau waktu membuka polis, penempatan investasinya di saham atau campuran,” katanya. 

Untuk itu, Budi mengingatkan tujuan utama memiliki asuransi adalah memberikan perlindungan. Nasabah harus menempatkan perlindungan jiwa sebagai manfaat utama. “Pemegang polis tentu paham bahwa ini bukan invetasi (jangka pendek) tapi perlindungan jangka panjang,” tegasnya. 

Baca Juga : Di Swiss, Suara Rakyat Benar-benar Suara Tuhan

Budi menyebutkan, di tengah kondisi runtuhnya nilai saham, terdapat sejumlah nasabah yang justru melakukan penambahan nilai polis. Hal ini dikarenakan perhitungan manfaat maupun perhitungan investasi. “Ini kontrak jangka panjang. Jadi, nilai investasi ada pilihan turun, ada stabil. Tergantung nasabah. Justru melihat ini kesempatan tambahan premi atau top up,” tukasnya. [USU]