Dark/Light Mode

Lazada Stop Jual Produk Fesyen, Kuliner, Dan Kerajinan Impor

Semoga UMKM Lokal Kuasai Negeri Sendiri

Rabu, 4 Agustus 2021 05:29 WIB
Ilustrasi - Seorang konsumen sedang berbelanja daring melalui aplikasi LazMall. (Foto : ANTARA).
Ilustrasi - Seorang konsumen sedang berbelanja daring melalui aplikasi LazMall. (Foto : ANTARA).

RM.id  Rakyat Merdeka - Lazada Indonesia menutup seluruh akses perdagangan barang impor pada tiga klaster industri, yakni tekstil dan fesyen, kuliner, dan kerajinan di Indonesia. Langkah e-commerce ini mendapatkan apresiasi Pemerintah. Sebab, hal tersebut membuka peluang produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berjaya di negeri sendiri.

Penghentian perdagangan tiga produk tersebut di­lakukan Lazada pada layanan marketplace-nya mulai Selasa (3/8/2021).

Upaya tersebut sebagai tindak lanjut atas kian maraknya ser­buan barang asing. Terutama dari China di beberapa marketplace di Tanah Air. Di mana produk crossborder ini menawarkan ba­rang sama persis dengan produk yang dijual pedagang lokal. Dengan harga yang lebih murah, produk impor itu berpotensi membunuh pelaku usaha lokal.

Baca Juga : Anggaran Ketahanan Pangan Lindungi Petani Dari Pandemi

Sebelum Lazada, Shopee Indonesia sudah lebih dulu melakukan penutupan celah untuk penjualan barang impor pada Mei lalu.

Head of Public Affairs and Public Policy Lazada Indonesia Waizly Darwin menegaskan, penutupan penjualan produk tersebut sebagai bentuk tang­gung jawab Lazada. Terutama, dalam memberikan rasa keberpi­hakan dan perlindungan kepada pelaku UMKM lokal.

“Inisiatif ini sudah sejak lama dan secara berkala, berkomitmen mendukung dan memberdayakan UMKM lokal Indonesia,” tegas Waizly dalam konferensi pers penutupan akses impor di Lazada bersama Kementerian Koperasi dan UKM secara virtual, kemarin.

Baca Juga : Duterte Takluk Ke AS

Waizly mengungkapkan, pi­haknya memilih menutup tiga klaster barang tersebut karena klaster ini merupakan sektor penting pendorong ekonomi nasional. Karena itu, pihaknya memantau, mengkaji ulang serta memutakhirkan kebijakan di platform-nya. Khususnya untuk penjualan crossborder agar tetap relevan dan sesuai dengan kebi­jakan dan peraturan Pemerintah.

“Rata-rata praktik yang di­lakukan mereka adalah Business to Customer (B2C). Tapi seka­rang mereka tak bisa lagi jualan di platform Lazada,” jelasnya.

Dalam mengambil keputusan, lanjutnya, pihaknya memper­timbangkan layanan terhadap konsumen. Dipastikannya, Lazada tetap bisa memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara memberikan penawaran produk dalam negeri.

Baca Juga : Vaksin Covid Ibarat Pake Helm Naik Motor, Minimalkan Cedera

Terkait kemungkinan ber­tambahnya jenis klaster atau produk impor yang bakal ditutup penjualannya, Waizly menegas­kan, semua tergantung pada kebijakan sektor Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
 Selanjutnya