Dark/Light Mode

Daya Beli Masyarakat Belum Kembali Seperti Semula

Pelonggaran PPKM Ibarat Mesin Baru Hidup, Belum Terasa Panas

Minggu, 19 September 2021 06:30 WIB
Ilustrasi. Mal Central Park, Jakarta Barat sepi pengunjung. Petugas tetap imbau pengunjung Mal untuk tetap menerapkan prokes dengan benar. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi. Mal Central Park, Jakarta Barat sepi pengunjung. Petugas tetap imbau pengunjung Mal untuk tetap menerapkan prokes dengan benar. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah diminta tidak terlena dengan penurunan kasus Covid-19 saat ini. Apalagi, daya beli masyarakat belum kembali seperti dulu.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Econom­ics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengingatkan, meski berbagai indikator perekono­mian menunjukkan perbaikan, namun indikator yang cukup besar pengaruhnya bagi per­tumbuhan ekonomi, yaitu daya beli masyarakat belum kembali seperti sedia kala.

“Daya beli ini besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena saat ini masih lemah, kami proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021 berada di kisaran 3 persen, tidak sampai 4 persen,” kata Tauhid kepada Rakyat Merdeka.

Baca juga : Kembali Usut Suap Pengurusan Perkara PT Lippo Group, KPK Periksa PNS

Tauhid mengatakan, daya beli masyarakat menengah ke bawah masih sangat rendah. Karena banyak dari mereka sudah tidak memi­liki uang lagi untuk dibelanjakan.

“Kalaupun belanja, hanya membeli untuk kebutuhan hidup,” katanya.

Dengan kondisi ini, otomatis konsumsi yang jadi pendorong pertumbuhan ekonomi juga tidak akan banyak bergerak, meski daya beli masyarakat me­nengah ke atas sudah ada sedikit peningkatan.

Baca juga : Bawaslu Sulsel: Usulan Baik, Bisa Hemat Dana

“Memang pertumbuhan ekono­mi kuartal III bisa positif dan bawa Indonesia keluar dari resesi, tapi tidak akan setinggi proyeksi pemerintah,” tegasnya.

Tauhid juga minta pemerintah tidak terlena dengan kondisi pandemi saat ini meski kasus­nya melandai. Dikhawatirkan, adanya varian baru yang sudah mulai ramai di luar negeri ikut masuk ke Indonesia. Yang akh­irnya mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, pemerintah harus melakukan pembatasan kegiatan masyarakat demi menekan penu­laran varian baru.

Baca juga : 10 Ribu Masyarakat Telah di Suntik Vaksin Covid 19 di Universitas Pancasila

“Belajar dari gelombang kedua varian Delta, kita jangan terlena. Kalau kasus Covid naik lagi, perekonomian pasti jadi korban dan kita makin sulit memulihkan perekonomian,” ucap Tauhid.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.