Dewan Pers

Dark/Light Mode

Refleksi Akhir Tahun

KLHK Mampu Tingkatkan Kualitas Lingkungan Hidup Saat Pandemi Covid-19

Rabu, 22 Desember 2021 07:20 WIB
Dirjen PPKL KLHK, Sigit Reliantoro  di acara refleksi akhir tahun 2021 bertemakan
Dirjen PPKL KLHK, Sigit Reliantoro di acara refleksi akhir tahun 2021 bertemakan "Pemulihan Lingkungan Tahun 2021" Selasa (21/12).

RM.id  Rakyat Merdeka - Sepanjang tahun 2021, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah berupaya sekuat tenaga untuk menangkal segala bentuk pencemaran demi menjaga lingkungan di tengah pandemi Covid-19.

Dalam Refleksi Akhir Tahun 2021, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK, Sigit Reliantoro membeberkan sejumlah capaian dari program peningkatan kualitas lingkungan, meliputi Indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH), pemulihan lingkungan, Pengendalian pencemaran dan Infrastruktur pemantauan kualitas lingkungan. 

Sigit mengatakan setiap tahunnya terjadi peningkatan IKLH. Bisa dilihat dari indeks kualitas air, udara, lahan, tutupan lahan, ekosistem gambut dan juga air laut. 

IKLH 2021 mengalami peningkatan 1,16 poin karena adanya peningkatan indeks kualitas udara dan indeks kualitas air dan lahan. Padahal, target IKLH 2021 hanya 68,96. Lebih tinggi sedikit dari target IKLH di 2020 sebesar 68,71. 

"IKLH 2020, 70,27 sedangkan 2021 naik menjadi 71,43. Hasilnya warna udara terlihat biru, kemudian sungai-sungai terdeteksi adanya perbaikan kualitas lingkungan yang luar biasa," kata Sigit di acara refleksi akhir tahun 2021 bertemakan "Pemulihan Lingkungan Tahun 2021" Selasa (21/12). 

Sejak 2015 hingga sekarang, Sigit mengatakan, indeks kualitas udara Indonesia konsisten dalam menembus target. Peningkatannya empat digit lebih besar dari target. Seperti yang terjadi di 2015. Targetnya, hanya 81.00, ternyata kualitas udara Indonesia meningkat menjadi 84,96 persen. Bahkan di 2017 meluncur lima digit lebih besar dari target. Dari yang hanya 82.00 menjadi 87,03. 

"Untuk tahun 2020 targetnya 84,10 tapi kualitas udara kita meningkat jadi 87,21. Begitupun di 2021 naik lagi dari capaian 87,21 menjadi 87,23," ujarnya.

Kendati demikian, Sigit mengaku pihaknya masih punya pekerjaan rumah untuk memperbaiki indeks kualitas air. Karena sejak 2015 hingga saat ini, baru dua kali kualitas air di Tanah Air lebih tinggi dari target. Yaitu di 2015 dan 2017. Di tahun 2015 target dari 52.00 menjadi 53,10 dan 2017 target 53.00 menjadi 53,20. 

Sedangkan di 2020 dan 2021, indeks kualitas air jauh tertinggal dari target. Di tahun 2020 target 55,10 namun capaiannya hanya 53,53. Capaian di 2021 malah menurun dari 2020. Poinnya cuma 53,33, padahal target 55,20. 

Berita Terkait : Krisis Iklim Sudah Di Depan Mata, Umat Beragama Harus Jaga Lingkungan Hidup

"Indeks kualitas air ini yang paling berat karena indeksnya masih rendah belum mencapai target. Penyebab utamanya adalah aktivitas dari rumah tangga itu air limbahnya belum terkelola dengan baik, sehingga upaya untuk mempercepat sanitasi dan perbaikan sanitasi itu sangat urgen dilakukan," ungkap dia. 

Dalam pidatonya, Sigit menyebutkan terdapat 14 provinsi yang memenuhi target indeks kualitas air, sisanya belum mencapai target. Parameter utama yang menyebabkan tidak memenuhi target karena biological oxygent demand, dissolved oxygen, dan fecal coli. 

Hal ini menunjukan sumber tercemar dari kegiatan domestik masih dominan sebagai penyebab penurunan kualitas air.

"Provinsi yang mengalami tren penurunan indeks kualitas air seperti Banten, Bengkulu, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan dan Jawa Barat. Yang trennya naik ada DKI Jakarta, NTT, Maluku, NTB, dan Sulawesi Tenggara. Secara nasional tren perbaikan kualitas airnya sangat luar biasa. Sangat signifikan dilihat dari titik-titik pemantauan kami yang memenuhi baku mutu dari tahun ke tahun jumlahnya meningkat," papar Sigit. 

Di wilayah Bogor, Depok dan Jakarta, terdapat delapan titik yang dipantau Ditjen PPKL untuk menentukan status mutu Sungai Ciliwung. 

Di Bogor ada empat titik yaitu sebelum masjid At Ta'awun Puncak, Katulampa, Kedung Halang, dan Pondok Rajeg. Pada 2021, indeks kualitas air di aliran air sebelum masjid At Ta'awun berwarna hijau, artinya bersih dari pencemaran. 

Sedangkan di Jembatan Panus Depok mengalami pencemaran sedang. Hal ini mengalami tren penurunan dibanding tahun sebelumnya yang sama sekali tidak tercemar. 

Sementara di DKI ada tiga titik untuk menentukan status mutu Sungai Ciliwung. Antara lain di Kelapa Dua Srengseng Sawah, sebelum pintu air Manggarai, dan outlet pompa Danau Pluit. 

Hanya di Kelapa Dua Srengseng Sawah yang mengalami pencemaran sedang di tahun 2021. Dua di antaranya pencemarannya ringan. 

Berita Terkait : Stop Hafsu Ekonomi Yang Rusak Lingkungan!

Lebih lanjut Ia menjelaskan, dari tahun ke tahun pihaknya terus berupaya mengurangi pencemaran air. Caranya dengan membentuk komunitas yang bertugas menjaga air sungai. 

"Mereka berpatroli, kami sediakan perahu, mengajak masyarakat wisata kebaikan, ikut mengambil sampah. Juga tidak lepas dari kegiatan ekonomi yang rendah sehingga kualitas airnya kelihatan lebih jernih," bebernya. 

Capaian tersebut berdampak positif pada spesies makhluk air yang ada di Sungai Ciliwung. "Bukti air sungai kita bagus itu adanya kemunculan penyu kemudian ini ada lobster biru yang merupakan spesies endemik di sungai tersebut sudah mulai ditemukan oleh warga. Artinya kualitasnya sudah mulai bagus karena pencemarannya rendah," terangnya 

Selain itu, pihaknya juga mengajak Pemerintah Daerah menetapkan IKLH dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 

Hal ini berdasarkan Surat Edaran yang dilayangkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang penetapan RPJMD Berwawasan Lingkungan. "KLHK memberikan guidance mengenai target dari masing-masing daerah," sebut Sigit. 

Pihaknya pun telah melakukan pembahasan kesepakatan dengan provinsi, kabupaten/kota. "Dari laporan yang kami terima, dari 34 provinsi semua sudah menetapkan target IKLH di RPJMD, kecuali Maluku. Sedangkan dari 514 kabupaten/kota, 50 di antaranya belum menetapkan target," sebut Sigit. 

Padahal, tegas Sigit, terget IKLH menjadi dasar pembahasan penyusunan dokumen dalam rapat koordinasi teknis perencanaan pembangunan dengan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Darah, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah, dan Kementerian Dalam Negeri. "Pencapaian target IKLH menjadi salah satu kriteria evaluasi kinerja pembangunan lingkungan hidup di daerah," imbuh dia. 

Dari segi indeks kualitas udara, Indonesia patut berbangga. Karena indeks kualitas udara mengalami peningkatan pada tahun 2021 sebesar 0,02 poin dibanding tahun 2020. Capaian indeks kualitas udara nasional tahun 2021 memenuhi target yang telah ditetapkan, dengan capaian 103,60 persen. 

Provinsi yang mencapai target indeks kualitas udara sebanyak 28. Sedangkan yang belum mencapai target ada 6 provinsi. Di sisi lain, indeks kualitas air laut selama dua tahun selalu melampaui target. Di 2020 targetnya 58,50, Indonesia melompatinya hingga 68,94. Di 2021 lebih canggih lagi. Target 59.00, pencapaiannya mencapai 81,03. 

Berita Terkait : Gus Halim: Desa Cerdas Harus Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

"Provinsi yang mengalami tren kenaikan ada Bali, Banten, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Kalau yang trennya menurun ada Papua, Kepulauan Riau, Aceh, Sulteng, dan Sulbar," tuturnya. 

Senada di 2021, target 62,50, Indonesia hanya bisa mencapai 59,54. Jawa Barat, Jawa Tengah dan DKI, tiga di antara delapan provinsi yang indeks kualitas lahannya menurun. Sedangkan Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, tiga di antara tujuh provinsi yang indeks kualitas lahannya meningkat. 

"Indeks kualitas lahan ini memang kecenderungan dari tahun ke tahun menurun. Tidak saja dari aspek konversi  lahan untuk permukiman, pertanian, perkebunan, Pertambanga. Seperti di Lampung, Yogyakarta, Jawa Barat, Jambi, DKI Jakarta, Bali, NTB, dan Jawa Tengah. Mungkin, upaya-upaya rehabilitasi dan pemulihan lingkungan perlu dilakukan secara masif di provinsi-provinsi ini," urai dia.


 Ekosistem Gambut Membaik 

Terakhir, indeks ekosistem gambut terbukti pada catatan IKLH semakin mengalami perbaikan. Upaya-upaya pemulihan ekosistem yang pihaknya lakukan pertama dengan mengadopsi adanya kebutuhan untuk membuat infrastruktur hijau. 

"Terpenting sekarang itu kan katanya pendekatan natural best solution, artinya mengimplementasikan inovasi dan pengetahuan baru untuk meniru atau meningkatkan sistem-sistem yang ada di alam. Sehingga, proses perbaikan lingkungan bisa dipercepat,"tukasnya. 

Dia juga menerangkan pihaknya berupaya menyediakan fasilitas yang bermanfaat untuk mengurangi IKLH. Seperti tong sampah dan fasilitas pengolahan air limbah. Di samping itu, hal ini bisa dimanfaatkan masyarakat setempat untuk menunjang insentif ekonomi merrka. 

"Karena bisa digunakan oleh pemuda setempat atau kelompok masyarakat setempat untuk memelihara infrastruktur mereka. Contoh pemeliharaan binatang alam, bahkan sekarang lokasinya sudah digunakan untuk beberapa kali untuk prewedding foto-foto wedding. Bisa juga dibuat cafe," terang Sigit.