Dewan Pers

Dark/Light Mode

Petani Milenial Dukung Kementan Tingkatkan Ketahanan Pangan Pasca Pandemi Covid-19

Kamis, 16 Juni 2022 12:50 WIB
Owner iCow Agro Indonesia Pri Menix Dey/Ist
Owner iCow Agro Indonesia Pri Menix Dey/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) tak henti-hentinya meningkatkan produksi pangan guna terus menjadikan sektor pertanian sebagai penopang pertumbuhan ekonomi, khususnya kesejahteraan petani. 

Peningkatan minat petani milenial menjadi salah satu kunci untuk ketahanan pangan ke depan tetap tangguh, khususnya pasca pandemi Covid-19. Sehingga upaya ini mendapatkan dukungan dari petani milenial.

Berangkat dari ini, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan menyelenggarakan webinar Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Propaktani bertajuk Kiat Petani Milenial Dalam Menopang dan Meningkatkan Ketahanan Pangan Pasca Pandemi Covid 19.

Bimbingan ini menghadirkan Bupati Sijunjung Sumatera Barat Benny Dwifa Yuswir dan para petani milenial sukses membangun bisnis pertanian dari hulu ke hilir.

Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir memberikan apresiasi terhadap program dan capaian Kementan yang mampu menjadikan sektor pertanian yang bertahan di era pandemi Covid-19. 

Berita Terkait : KAI Gandeng Transjakarta Tingkatkan Pelayanan Ke Pelanggan

Saat ini, teknologi pertanian sudah banyak diciptakan bahkan dari yang satu komoditi yang hasilnya hanya satu turunan, saat ini sudah menghasilkan jenis-jenis baru turunan produksi. 

Begitu juga di Kabupaten Sijunjung dengan komoditi manggisnya yang luar biasa, kini menjadi ekspor manggis terbesar di Indonesia.

“Konsennya Kabupaten Sijunjung dengan pertanian kita buktikan dengan membawa Universitas Negeri Padang bisa membawa dampak untuk sektor pertanian. Program-program yang kita siapkan untuk sektor pertanian cukup banyak,” kata Benny pada webinar, Selasa (14/6).

Menurutnya, sudah prioritas pihaknya membuat beberapa program yang mensinergikan dengan anggapan bahwa petani bekerja dengan kondisi yang kotor, berkeringat. Padahal dengan teknologi saat ini, hal itu bisa kita antisipasi,” ujar Benny.

Harapannya, dengan adanya pandemi ini bukan berarti tidak bisa berkreativitas, dan pihaknya yakin akan lahir petani millenial yang luar biasa ke depannya, bahkan petani millenial tingkat Intenasional.

Berita Terkait : Belum Pasti, Biang Kerok Kenaikan Kasus Covid-19

Pri Menix Dey, selaku Petani Milenial sekaligus Owner iCow Agro Indonesia, memberikan acungan jempol terhadap perhatian Kementan di bawah komando Syahrul Yasin Limpo yang mendorong minat dan peran petani milenial hingga saat ini.Salah satu buktinya, membuka program magang Jepang bagi petani milenial.

Menurutnya, strategi yang bisa dilakukan dalam menghadapi tantangan di sektor pertanian saat ini adalah Agile Learning, yaitu belajar dengan tangkas, adaptness with ambiguity yaitu menghadapi situasi yang tidak pasti dengan beradaptasi, thinking strategically yaitu berpikir strategi dan drive to execute yaitu kecepatan tinggi, fleksibel dan focus pada tujuan. 

Menurutnya, ada 7 kebiasaan yang akan membawa kita kepada kesuksesan, yaitu jadilah proaktif, merujuk pada tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang dan kolaborasi, memahami dulu maka akan dipahami, sinergi, dan upgrade kemampuan diri. 

“Saya optimis dengan tageline Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo membangun pertanian maju, mandiri dan modern. Ini akan meningkatkan jumlah petani milenial yang membangun pertanian dengan cara modern, meningkatkan nilai tambah dan pertanian tentu semakin tangguh untuk bantalan perekonomian nasional,” turur Pri Menix Dey dalam webinar tersebut.

Pegiat Petani Millenial, Rustam Budiman menjelaskan, kurang lebih 100 jiwa rakyat indonesia menjadi petani. Khusus di bidang ketahanan pangan masih di skala kecil, sementara pertanian di Indonesia ditargetkan menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Berita Terkait : Jokowi: Hadi Mantan Panglima, Pasti Menguasai Teritori

Menurut Rustam, Indonesia akan masuk pada masa keemasan pada tahun 2045 (100 tahun indonesia) yang disebut dengan bonus demografi. Oleh karena itu, pemuda harus ambil peluang, jangan gengsi menjadi petani. Pemuda juga harus berinovasi dan menjadi garda terdepan dalam menopang dan meningkatkan ketahanan pangan.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong program pengembangan inovasi pertanian guna menghadapi berbagai tantangan ke depan, yakni perubahan iklim ekstrem dan pandemi Covid-19,. Termasuk tumbuhnya petani milenial untuk meningkatkan produksi hingga ekspor dengan implementasi pengembangan pertanian secara modern. 

Pengembangan aspek hilirisasi berbagai olahan pangan lokal dapat meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani menjadi program yang harus diwujudkan.

Di saat seperti ini, yang bisa menyelamatkan negara adalah kebersamaan. Pertanian tidak boleh macet, pertanian harus terancang dengan baik. Anak-anak milenial harus turun. Integrated farming berbasis zero waste salah satu cara yang mampu mengefisiensikan biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani. 

“Tantangan ini bagi kaum milenial untuk mengembangkan teknologi pertanian baik aspek Hulu, onfarm, hilirisasi,” ujar Suwandi.■