Dark/Light Mode

Namanya Juga Kabinet Jokowi, Pantes Dan Wajar Orang-orangnya Jokowi Banget

Sabtu, 26 Oktober 2019 07:56 WIB
Presiden Jokowi bersama Wapres Maruf Amin dan para menteri berfoto bersama. (Foto: Rendy T Kurniawan/Rakyat Merdeka)
Presiden Jokowi bersama Wapres Maruf Amin dan para menteri berfoto bersama. (Foto: Rendy T Kurniawan/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kabinet Indonesia maju yang dipilih Presiden Jokowi sudah final dan komplit. Sekarang tinggal kerjanya saja. Karena yang milihnya Jokowi, pantas dan wajar orang-orangnya Jokowi banget. Ada yang selama ini selalu di samping Jokowi. Ada yang jadi tim sukses Jokowi. Ada juga dari tim relawan Jokowi.

Kemarin, proses akhir dari pembentukan Kabinet Jokowi. Jokowi memilih 12 wamen yang terdiri dari lima unsur profesional, lima perwakilan parpol, satu eks pejabat Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, dan satu dari organisasi relawan Pro Jokowi alias Projo.

Dari Projo, Jokowi mengambil ketua umumnya, Budi Arie Setiadi sebagai Wakil Menteri Desa dan PDT. Dari TKN, eks bendahara umumnya, Wahyu Sakti Trenggono, diangkat jadi Wakil Men­teri Pertahanan.

Jokowi memang banyak mengambil orang-orang yang berkeringat untuk dimasukkan ke dalam kabinetnya. Di tataran menteri, ada eks Ketua TKN, Erick Thohir, yang jadi Menteri BUMN. Eks tim Kreatif Kampanye Jokowi ­Ma’ruf, Wishnutama, jadi Men­teri Pariwisata. Kemudian, eks Direktur Penggalangan Pemilih Muda TKN, Bahlil Lahadalia, diangkat jadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Berita Terkait : Para Menteri Jangan Korupsi

Di kalangan parpol pun, yang jadi menteri adalah orang-orang yang be­kerja keras di TKN. Menteri Sosial, Juliari Batubara, adalah Wakil Bendum I TKN. Ida Fauziyah yang diangkat se­bagai Menteri Ketenagakerjaan adalah mantan Direktur Penggalangan Pe­milih Perempuan TKN.

Politikus Nasdem, Johnny G Plate, yang diangkat menjadi Menkominfo adalah mantan Wakil Ketua TKN. Su­harso Monoarfa, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, berstatus mantan Dewan Pengarah TKN.

Fachrul Razi yang menjabat Men­teri Agama, merupakan Ketua Tim Bravo 5, salah satu kelompok relawan pemenangan Jokowi di luar struktur TKN. Anggota tim berisi purnawi­rawan TNI dan sejumlah tokoh seperti Alwi Shihab, Luhut Pandjaitan, hingga Ruhut Sitompul. Dia juga dikenal dekat dengan Luhut, yang dipertahankan kembali oleh Presiden Jokowi sebagai Menko Maritim.

Mahfud MD, Menko Polhukam, juga dekat dengan Jokowi. Mahfud bahkan hampir jadi cawapres sebelum “ditukar” dengan Ma’ruf Amin di detik-detik terakhir.

Berita Terkait : Alue Dohong: Baru Kali Ini Orang Dayak Masuk Kabinet

Yang juga menonjol adalah ditun­juknya Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri, satu dari tiga menteri “kunci” yang periode lalu dijabat kader PDIP. Tito memang dinilai loyal terhadap Jokowi. Selain loyal, saat menjadi Kapolri, Tito juga berprestasi. Puncaknya, tentu ketika dia berhasil mengamankan jalannya Pilpres 2019 yang akhirnya dimenangkan Jokowi.

Melihat fenomena orang-­orang de­kat Jokowi ini, Guru Besar Politik Universitas Indonesia, Prof Budyatna menganggap sebagai sebuah hal wajar. “Ya tentu yang berkeringat pantas dapat penghargaan lebih. Wajar juga isinya orang­orang Jokowi, karena ini memang kabinet Jokowi,” ujarnya, semalam.

Menurut dia, justru agak aneh ketika Jokowi menempatkan orang­orang yang tidak dekat dengannya. Bisa­ bisa, kerjanya tidak seirima. Bahkan tidak memahami kemauan Jokowi.

Budyatna menegaskan, penunjukan orang-orang dekat Jokowi ini tidak masalah. Yang penting, orang-orang itu punya kapabilitas dan kredibilitas yang mumpuni. “Tidak perlu diulas satu satu. Cek saja rekam jejak, latar belakang pendidikan, dan pengalaman para menteri dan wamen. Sebagian besar, kredibel,” tandasnya.

Berita Terkait : Ini 12 Nama Calon Wakil Menteri Yang Akan Dilantik Jam 2 Siang Ini

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rah­man memastikan, susunan kabinet ini bukan cara Presiden bagi­-bagi kursi. Tetapi, itu cara Jokowi mengambil put­ra-putri terbaik bangsa. Pulau-pulau besar terwakili.

“Inilah wajah persatuan Indonesia. Dan sekali lagi tidak pernah ada men­teri atau wakil menteri yang visinya di luar pak presiden. Semuanya satu,” ujarnya, di Istana Negara, kemarin.

Pengangkatan 12 wamen, disebut Fadjroel, untuk membantu mening­katkan dan mempercepat kinerja di masing­masing kementerian. “Karena kan Presiden ingin cepat kerjanya. Jadi, harus dibantu banyak orang,” bebernya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko. Me­nurut Moeldoko, wamen dalam jumlah cukup besar memang dibutuhkan untuk mempercepat langkah tiap kementerian dalam mencapai target yang sudah ditetapkan. “Kenapa kok banyak? Namanya saja sudah Kabinet Indonesia Maju. Kalau orang mau maju kan high speed kan,” urainya. [OKT]