Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bikin Konsorsium Libatkan 13 Kampus dan 4 Lembaga
Kemenristek/BRIN All Out Tanggulangi Pandemi Covid-19
Kamis, 23 April 2020 13:31 WIB
Sebelumnya
Bambang memaparkan tiga prioritas program Konsorsium Covid-19. Untuk jangka pendek berfokus pada penelitian dan kajian sistematik untuk pencegahan. Yakni meneliti tanaman herbal, yang berpotensi meningkatkan imun tubuh agar terhindar dari kemungkinan tertular virus Covid-19.
Untuk jangka pendek sudah ada hasilnya. Konsorsium menyebutkan jambu biji sebagai bahan makanan yang bisa membantu mencegah penularan virus corona.
“Sudah dilakukan kajian secara mendalam oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan perguruan tinggi bahwa jambu biji bahan makanan terbaik yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh terbaik dalam menghadapi Covid-19,” ungkap Bambang.
Baca juga : Pemerintah Dinilai Sudah Tanggap Hadapi Pandemi Covid-19
Program jangka pendek lain, pengembangan Alat Pelindung Diri (APD), pembuatan hand sanitizer, disinfectant, mobile hand washer, chamber ozon, serta public education.
Untuk prioritas jangka menengah, berfokus pada pengembangan dan pengkajian Rapid Test Kit Covid-19 baik untuk deteksi awal (early detection) maupun deteksi akhir (late detection), pengembangan suplemen, multivitamin, dan immune modulator dari berbagai tanaman Indonesia, pengembangan robot layanan (service robot), smart infusion pump, dan pengembangan ventilator (alat bantu pernafasan).
Khusus ventilator, Bambang menekankan bahwa alat kesehatan yang sangat dibutuhkan pasien Covid-19. Menurutnya, Konsorsium sudah mengembangkan ventilator portabel untuk menjawab kebutuhan.
Baca juga : Ekspor Sawit dan Kopi Asal Jatim Melonjak Tinggi di Tengah Pandemi Covid-19
“Saat ini ventilator sedang di uji Kementerian Kesehatan. Jika pengujian selesai, sudah ada dua perusahaan siap produksi. Masing-masing perusahaan bisa memproduksi 100 unit per minggu,” papar Bambang.
Untuk prioritas jangka panjang, akan berfokus pada pengkajian dan pengembangan obat dan vaksin Covid-19.
Bambang mengungkapkan, dalam pengembangan vaksin, tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan negara lain yang sudah mengembangkan vaksin. “Walau negara lain sudah mengembangkan kita harus bisa mandiri, membuat vaksin sendiri karena kita membutuhkannya,” tegasnya.
Baca juga : Kekerasan terhadap Perempuan Meningkat Saat Pandemi Covid-19
Bambang menuturkan, Konsorsium akan melakukan pengembangan selama 12 bulan. Target itu tergolong cepat. Namun demikian, ditekankannya, Konsorsium akan berupaya berbagai cara agar bisa selesai dalam waktu yang lebih cepat.
Dia menyebut, salah satu yang tengah diuji Konsorsium adalah keampuhan Pil Kina. “Obat yang kita teliti salah satunya Pil Kina. Karena Pil Kina itu mengandung Chloroquine. Mudah-mudahan, dari penelitian ini, ada sesuatu yang bisa berkontribusi kepada pengobatan Covid-19,” harap Bambang. [TIM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya