Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kasus Kematian Dokter Dan Nakes Meningkat

Tata Kelola Penanganan Covid-19 Kudu Dievaluasi

Senin, 7 September 2020 05:10 WIB
Kasus Kematian Dokter Dan Nakes Meningkat Tata Kelola Penanganan Covid-19 Kudu Dievaluasi

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus meninggalnya dokter dan tenaga kesehatan alias nakes semakin meningkat. Anak buah Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyarankan agar tata kelola penanganan Covid-19 dievaluasi. 

Jika didiamkan, bukan tidak mungkin jumlah dokter dan nakes yang tumbang makin bertambah.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Suprapto mengatakan, dokter dan nakes merupakan kelompok rentan, yang memiliki ancaman paling fatal tertular Covid-19. Karena mereka bertugas di garda terdepan penanganan Covid-19. 

Karenanya, pemerintah terus berusaha keras untuk memberikan dukungan kepada para dokter dan nakes agar bisa melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan bisa menyelamatkan dirinya dari ancaman tertular Covid-19. 

Pemerintah terus berusaha memenuhi alat pelindung diri dan kebutuhan lainnya. 

“Peristiwa meninggalnya nakes ini perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak. Saya berkeyakinan ada yang perlu dievaluasi dari tata kelola dan budaya kerja nakes dalam menghadapi Covid-19,” kata Agus, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Berita Terkait : Angka Kematian Tinggi, IDI Analisis Pola Penyebaran Covid di Klaster Tenaga Medis

Agus menjelaskan, evaluasi tata kelola tersebut meliputi pengaturan waktu dan beban kerja. Karena kerja di lingkungan berisiko tinggi dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) level 3, membutuhkan stamina fisik lebih. 

Kelelahan kerja atau burnout, lanjut Agus, bisa menjadi faktor meninggalnya nakes. Tapi, keselamatan kembali lagi kepada para dokter dan nakes itu sendiri dalam mematuhi prosedur saat bekerja. 

Karena itu, dia mengusulkan adanya evaluasi budaya kerja. Menurutnya, dalam area risiko tinggi membutuhkan cara kerja baru, cara kerja sama baru dalam setiap langkah atau tindakan. 

Agus menceritakan pengalamannya saat di klinik. Kalau dulu, bisa ambil alat atau bahan sendiri, sekarang tidak bisa lagi karena telah bersentuhan dengan pasien. 

“SOP tindakan di klinik berubah ketat. Sekarang tidak bisa lagi lepas masker sembarangan. Tidak bisa lagi memegang sembarang alat tanpa proses disinfeksi. Pengalaman pribadi, praktek klinik selama 8 jam dengan APD komplit, capeknya luar biasa. Harus istirahat yang cukup di hari berikutnya,” imbuhnya.

Kelelahan Kerja 

Berita Terkait : Banyak Saksi Belum Diperiksa, KPK Tambah Masa Penahanan

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor Ari Fahrial Syam mengungkapkan, kasus kematian dokter dan nakes karena Covid-19 di Indonesia terus bertambah. 

Salah satu faktornya kelelahan kerja. Studi terbaru dari FKUI menunjukkan semua nakes mengalami burnout atau gejala yang timbul karena stresor dan konflik di tempat kerja seperti kelelahan emosi, kehilangan empati, dan berkurangnya rasa percaya diri. 

Sebanyak 83 persen nakes mengalami gejala sedang hingga berat. Burnout pada nakes menimbulkan rasa lelah baik secara fisik maupun emosi. Keadaan ini membuat daya tahan tubuh melemah sehingga lebih rentan terhadap Covid-19 dan berisiko menimbulkan gejala yang parah dan menyebabkan kematian. 

Berdasarkan data yang dihimpun peneliti FKUI, saat ini tercatat lebih dari 100 dokter, 55 perawat, 15 bidan, dan 8 dokter gigi yang meninggal dunia karena Covid-19. 

Ari bilang, selain burnout terdapat beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian nakes. 

“Ada kemungkinan komorbid, ada faktor beban kerja, dan rata-rata yang meninggal berusia di atas 45 tahun,” kata Ari (4/9). Ketersedian APD yang melindungi dari paparan Virus Corona juga dianggap berkontribusi pada kematian nakes. 

Berita Terkait : Masalah Pengungsi dan Perdagangan Orang Perlu Penanganan Lintas Sektor

Menurut Ari, di awal pandemi, kasus kematian nakes karena Covid-19 dipicu karena keterbatasan APD. 

Saat ini berdasarkan, temuan studi FKUI, masih terdapat 2 persen nakes yang tidak mendapatkan APD. 

“Di awal ada kemungkinan karena keterbatasan APD. Sekarang sudah menggunakan APD lengkap. Ada kemungkinan proses penularan bukan dari pasien. Ada satu kasus dari supir, ada yang saat berinteraksi di ruang makan. Jadi, multifaktor,” ujar Ari yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam. 

Ari menyebut saat ini tak bisa diketahui secara pasti penyebab kematian pada nakes Covid-19 secara forensik, karena Indonesia belum memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan tersebut. 

“Di beberapa negara mungkin forensik medis itu suatu yang umum sehingga bisa tahu penyebab meninggalnya. Apakah karena paru atau komplikasi lainnya,” pungkasnya. [DIR]