Dark/Light Mode

Pandemi Covid-19 Berimbas Pada Sektor Properti

Wapres: Program Sejuta Rumah Tak Capai Target

Selasa, 29 Desember 2020 05:21 WIB
Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin dalam acara Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Sek­tor Perumahan, yang disiarkan secara virtual, kemarin.
Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin dalam acara Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Sek­tor Perumahan, yang disiarkan secara virtual, kemarin.

RM.id  Rakyat Merdeka - Realisasi program sejuta rumah untuk tahun anggaran 2020 gagal mencapai target. Pandemi Covid-19 berimbas pada penurunan sektor perumahan di Indonesia.

 “Program satu juta rumah dimulai sejak 2015. Tapi khusus tahun ini, program itu tidak sesuai target,” kata Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin dalam acara Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Sek­tor Perumahan, yang disiarkan secara virtual, kemarin.

Menurut Ma’ruf, sampai 14 Desember 2020, capaian pro­gram ini baru 856.758 unit dari target 900 ribu unit. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 77 persen disalurkan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Mantan Ketua Umum Ma­jelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengakui, seluruh sektor properti, termasuk konstruksi terkena imbas Covid-19.

Pertumbuhan sektor properti pada kuartal III tahun 2020 jauh di bawah pertumbuhan 2019 yang mencapai 5,49 persen.

Berita Terkait : Merawat Kehidupan Di Sela Duka Dan Kerusakan Akibat Pandemi Covid-19

Selain itu, pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) juga turun tajam dari 7,99 persen di 2019 menjadi 2,05 persen pada kuartal III-2020.

Pemerintah berharap, di 2021 ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5 persen. Sektor perumahan diharapkan mampu mendukung target tersebut.

“Karena itu, perumahan akan mendapatkan perhatian dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” kata Ma’ruf.

Menurut Ma’ruf, untuk mendu­kung pemulihan ekonomi di sek­tor perumahan, pemerintah sudah menerima masukan dari berbagai pihak dalam penyediaan peru­mahan layak dan nyaman bagi masyarakat, termasuk MBR.

Selain itu, pemerintah juga melakukan kolaborasi dengan pihak lain. Sebab, sebesar apapun subsidi dan insentif untuk sektor perumahan, tidak akan berjalan baik jika masing-masing stakeholder hanya peduli dengan dirinya sendiri.

Berita Terkait : Per 7 Desember 2020, Program Sejuta Rumah Baru 777 Ribu Unit

“Kata kuncinya adalah ko­laborasi. Kolaborasi itu artinya kerja sama untuk mencapai cita-cita. Yaitu, menyediakan rumah yang nyaman dan aman untuk masyarakat," katanya.

Ma’ruf mengatakan, saat ini diperkirakan ada 20 persen keluarga di Indonesia belum memi­liki rumah. Karena itu, untuk mengatasi backlog perumahan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya.

Antara lain, memberikan bantuan pembiayaan kepemilikan rumah, reformasi perizinan dan insentif fiskal. Termasuk, program sejuta rumah yang diresmikan Presiden Jokowi pada tahun 2015.

Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ba­suki Hadimuljono sebelumnya mengatakan, program sejuta rumah terus dilaksanakan agar setiap warga negara Indonesia memiliki rumah yang layak huni.

“Di masa pandemi rumah menjadi salah satu hal penting. Ini kebutuhan pokok bagi masyarakat agar bisa terhindar dari penularan virus,” ujarnya.

Berita Terkait : Gerindra: Pertanda Ekonomi Bangkit

Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid menambahkan, Kementerian PUPR tetap op­timistis program sejuta rumah mencapai angka 900.000 unit saat tutup tahun.

Perkiraan tersebut merupa­kan hasil dari perhitungan pembangunan rumah masyarakat yang dibangun oleh Kementerian PUPR maupun dari mitra kerja. Baik pengembang perumahan, perbankan, pemerintah daerah, kementerian/lembaga terkait dan masyarakat. [NOV]