Dark/Light Mode

Kementan Kembangkan Budidaya Jahe Merah Di Cilacap

Kamis, 18 April 2019 15:19 WIB
Jahe merah/ilustrasi. (Foto: Kementan)
Jahe merah/ilustrasi. (Foto: Kementan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jahe merupakan salah satu golongan rimpang yang memiliki banyak khasiat. Tanaman ini telah lama dikenal sebagai salah satu penyedap masakan, minuman, maupun obat. Dewasa ini, pengembangan jahe sebagai komoditas rimpang digalakkan kembali Pemerintah. Salah satu lokasi pengembangannya terdapat di Cilacap, Jawa Tengah. 

Kepala Seksi Produksi Benih Direktorat Jendral Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Langgeng Muhono mengungkapkan, Cilacap sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra jahe. Daerahnya secara agroklimat cukup mendukung untuk pengembangan jahe.

Jenis tanah di Cilacap dominan aluvial, terutama aluvial kelabu dan kecoklatan. Jenis ini berada di wilayah Kecamatan Karangpucung, Sidareja, Patimuan Kroya, Nusawungu, Sampang, Kesugihan, dan Cilacap. 

"Tanah jenis latosol juga terdapat di daerah pegunungan antara lain di Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, dan sebagian Kecamatan Majenang dan Cimanggu bagian utara Cilacap. Kondisi topografi dan tanah yang ada memungkingkan untuk lokasi tumbuh kembang tanaman jahe, khususnya jahe merah," katanya.

Berdasarkan data statistik pertanian, dalam 5 tahun terakhir (2014-2018), rata-rata jumlah penanaman jahe sebesar 213.720 meter persegi. Sentra pertanaman terdapat di Kecamatan Wanareja (120.000 meter persegi), Kroya (26.000 meter persegi), Jeruklegi (19.700 meter persegi), Karangpucung (18.575 meter persegi), Patimuan (5.900 meter persegi), Majenang (5.800 meter persegi), Dayeuhluhur (4.714 meter persegi), dan Nusawungu (4.544 meter persegi). 

Baca juga : PGN Dapat Tambahan Pasokan Gas Bumi dari Jambi Merang

Sedangkan rata-rata total produksi sebanyak 472.403 tangkai. Seliputi Kecamatan Wanareja (302.250 tangkai), Karangpucung (42.804 tangkai), Kroya (39.340 tangkai), Jeruklegi (33.701 tangkai), Majenang (13.560 tangkai), Nusawungu (11.159 tangkai), dan Patimuan (6.580 tangkai). 

"Waktu panen utama biasanya dilakukan pada triwulan IV dengan kondisi tanaman sebagian habis dibongkar. Sebagian besar sentra pertanaman dan produksi jahe terdapat pada daerah pegunungan. Sedangkan untuk Kroya dan Nusawungu terdapat di dataran rendah," kata Langgeng.

Penanaman banyak dilakukan di Kecamatan Kroya, Nusawungu, dan sekitarnya. Sebab, di daerah ini terdapat industri jamu, baik skala rumah tangga maupun industri menengah.  Penanaman jahe dilakukan swadaya masyarakat secara tumpang sari di bawah tegakan tanaman Perhutani, tanaman perkebunan, maupun tanaman lain.

Sedangkan di dataran rendah, penanaman jahe dilakukan di lahan tegalan milik masyarakat. Penanaman lainnya melalui PKK dengan melibatkan kelompok wanita tani atau ibu-ibu PKK melalui Program Berlian PKK.

"Dalam kurun waktu 10 tahun, pengembangan jahe sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Cilacap, meskipun tidak setiap tahun dialokasikan anggarannya. Pada 2013 sudah dilaksanakan SLGAP (Sekolah Lapang Good Agricultural Practices) jahe di Desa Brebeg, namun hasil semua bantuan yang diberikan belum dapat berlanjut," kata Langgeng.

Baca juga : Lembaga Pangan Malaysia Tertarik Beras Bulog

Selama ini, kata Langgeng, pemeliharaan kurang intensif karena teknologi budidaya masih kurang dikuasai. Petani juga biasanya membongkar habis tanaman yang dibudidayakan. Tidak menyisakan sebagian rimpangnya atau uang penjualannya untuk penyediaan bibit kembali.

Kepala Dinas Pertanian Cilacap Supriyanto menambahkan, pada 2019, melalui dana APBN Jawa Tengah, Cilacap mendapatkan alokasi pengembangan jahe seluas 10 hektare dengan total anggaran sebanyak Rp 120 juta. Lokasi pengembangan jahe terletak di Kecamatan Wanareja pada Kelompok Tani Waluyo, Desa Limbangan seluas 5 hektare dan Kelompok Tani Sekar Mukti Desa Malabar seluas 5 hektare.

Rencana bantuan yang diberikan dalam 1 hektare berupa benih jahe sebanyak 300 kilogram, pupuk organik sebanyak 400 kilogram, trichoderma sebanyak 3 kilogram, dan PGPR (plant growth promoting rhizobacteria) sebanyak 2 liter. Jumlah benih dan jumlah serta saprotan yang diberikan tidak memenuhi untuk semua luasan dalam 1 hektare karena sifat bantuan adalah stimulan. 

Selain 10 hektare untuk pondok pesantren milenial, Cilacap juga mendapatkan alokasi pengembangan jahe seluas 5 hektare bagi Kelompok Usaha Bersama Ukhti Berkah di bawah pengawasan Pondok Pesantren Al-Fiel desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan. 

“Semoga bantuan benih jahe dan sarana penunjang produksi tersebut, dapat berguna bagi kami, dan mampu menstimulan para santri lain, untuk aktif dalam budidaya jahe,” ungkap salah satu santri Ponpes Al-Fiel, Kesugihan Kidul.

Baca juga : Setelah Mantan Sekda Jadi Tersangka, Giliran Wali Kota Malang Digarap KPK

Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan, Sukarman, menyampaikan harapan ke depan untuk menggiatkan kembali budidaya jahe dengan menstimulasi masyarakat melakukan kunyit, temulawak, temugiring, lengkuas, dan rimpang lain yang berkhasiat obat.

"Masih amat besar potensi untuk dikembangkannya aneka rimpang, agar Indonesia memiliki simplisia (bahan baku) obat herbal, yang diperoleh dari dalam negeri sendiri," tutur Sukarman. [KAL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.