Dewan Pers

Dark/Light Mode

Membaca Harus Jadi Budaya Kolektif Bangsa

Jumat, 12 Nopember 2021 15:11 WIB
Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas Adin Bondar (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas Adin Bondar (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejarah gerakan membaca Indonesia telah mencatat sejumlah pencanangan yang dilakukan Pemerintah dari masa ke masa hingga saat ini. Bahkan, pemberantasan buta huruf sudah digalakkan sejak 1948 di era Presiden Soekarno, meski saat itu kondisi negara sedang dalam darurat perang. Di hari ini, tepat 18 tahun lalu, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mencanangkan Gerakan Membaca Nasional. Gerakan Membaca Nasional bertujuan mengejar ketertinggalan penyelenggaraan pendidikan non formal dan pemberantasan buta aksara.

Di awal masa kemerdekaan, kondisi buta aksara masyarakat Indonesia mencapai 96 persen. Namun, dengan keseriusan, secara bertahap perbaikan signifikan diraih. Pada 1971, angka buta huruf turun menjadi di 39,1 persen. Lalu, pada 1980 turun lagi menjadi 28,8 persen. Pada 2014, kondisi buta aksara tersisa 4,4 persen. Pada 2021, buta aksara sudah mendekati nol persen.

Berita Terkait : Jakarta Waspada Potensi Hujan Petir Siang Dan Sore

Membaca memiliki posisi serta peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan, terlebih di era informasi dan komunikasi saat ini. Para pakar bersepakat bahwa kemahiran membaca (reading literacy) merupakan prasyarat mutlak (conditio sine quanon) bagi siapa pun yang ingin memperoleh kemajuan. Saking pentingnya membaca bagi pengembangan kualitas intelektual bangsa, tidak ada satu pun pemimpin negara yang tidak menempatkan gerakan membaca pada program prioritas pembangunan.

“Membaca harus menjadi budaya kolektif bangsa. Sebab, dari situ akan tercipta proses transfer knowledge sehingga diharapkan manusia akan cakap dalam kehidupan,” terang Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Adin Bondar, pada Webinar Hari Gerakan Nasional bertemakan “Keluarga Gemar Membaca untuk Indonesia Unggul dan Maju”, Jumat (12/11).

Berita Terkait : HNW Ajak Milenial Lestarikan Seni Budaya Bangsa

Adin melanjutkan, tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2020 berada dalam kategori sedang, yakni 54,17 poin. Angka ini mengalami peningkatan 0,33 poin dari 2019, yang sebesar 53,84. TGM merupakan nilai rata-rata dari tiga komponen alat ukur kegemaran membaca, yaitu frekuensi membaca, durasi/lama waktu membaca (jam per hari) dan banyaknya bahan bacaan/buku yang diselesaikan dalam tiga bulan (bahan bacaan per triwulan).

Mengingat tidak bisa parsial dalam mengatasi persoalan membaca, diperlukan sinergi dan kolaborasi yang dilakukan bersama pihak lain. Seperti dengan organisasi Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB).

Berita Terkait : Gerindra Kaget Banget

Ketua Umum GPMB Tjahjo Suprajogo mengatakan, pihaknya selalu menjembatani seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan gerakan budaya baca. Sejak didirikan 25 Oktober 2001 di Istana Bogor, GPMB terus konsisten mewarnai dan memfasilitasi gerakan pembudayaan minat baca masyarakat. “Sebagai mitra strategis dari Perpusnas, konsistensi GPMB tidak dapat dipisahkan dari keberadaan dan kiprah perpustakaan dan pegiat literasi baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan kota hingga kecamatan, kelurahan dan desa,” ujar Tjahjo.
 Selanjutnya