Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- STY Nilai Persija Sudah 80 Persen Jelang Super League 2026/2027
- Beckham Putra Siap Bawa Persib Lolos ke ACL Two
- Runner Up, Timnas Putri U-16 Punya Masa Depan Cerah
- Atasi Karhutla Riau, Prabowo Minta Bangun 306 Sumur Bor Di Dekat Hotspot
- Calon Bos OJK Sarjito Beberkan Tantangan Bursa Mineral RI Agar Dipercaya Dunia
RM.id Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison menolak berkomentar panjang lebar soal status visa petenis nomor 1 dunia Novak Djokovic. Terutama, soal keputusan pemerintah Australia yang hingga kini masih menggantung.
"Saya mengacu pada pernyataan terbaru Menteri Imigrasi Alex Hawke. Masih belum berubah. Keputusan untuk mendeportasi Djokovic adalah kewenangan kementerian yang dipimpin Hawke. Dari saya, belum ada komentar lebih lanjut," kata Morrison dalam konferensi pers di Canberra, seperti dikutip CNN, Kamis (13/1).
Baca juga : Bisa Bantu Djokovic, Presiden Serbia Bangga
Sementara itu, Perdana Menteri Negara Bagian Victoria Daniel Andrews menyampaikan satu kalimat tegas, saat dimintai komentarnya tentang kontroversi Djokovic.
"Segeralah divaksin," ujarnya.
Baca juga : Biar Adil, Nadal Dan Navratilova Dukung Djokovic Tampil Di Australia Open
"Itulah yang saya katakan pada setiap warga Victoria. Itulah yang saya, anak saya, dan keluarga saya lakukan. 93 persen warga Victoria sudah divaksin. Saya bangga.Saya bersyukur," ucapnya.
Namun, upaya untuk keluar dari situasi Covid tak semudah itu. Sementara upaya vaksinasi booster terus berlanjut, Australia berjuang menghadapi lonjakan kasus Covid yang belakangan ini gila-gilaan.
Baca juga : Satu Siswa Positif Covid, SMAN 71 Jaktim Kembali Sekolah Online
New South Wales dan Victoria, yang merupakan tempat penyelenggaraan Australian Open, adalah negara bagian yang paling terdampak.
"Keselamatan warga kami jauh lebih utama dibanding satu orang dan turnamen itu," ujarnya. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya