Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Blokir Dua Lembaga Keuangan Rusia
AS Ngebet Miskinkan Kolega Vladimir Putin
Kamis, 24 Februari 2022 08:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) memblokir dua lembaga keuangan besar Rusia sebagai balasan atas langkah negeri itu menerjunkan pasukan ke timur Ukraina. Hal ini diprediksi berimbas terhadap aset konglomerat dan elite, teman Presiden Rusia Vladimir Putin.
Biden mengumumkan sanksi itu dalam konferensi pers, Selasa (22/2) malam. Dua lembaga keuangan besar Rusia yang diblokir. Yaitu, VEB (perusahaan pembangunan negara Rusia) dan bank militer, Promsvyazbank.
Langkah itu merupakan sanksi tahap pertama. Biden mengancam bakal ada hukuman susulan jika Rusia menyerang Ukraina.
Baca juga : Peneliti : Literasi Keuangan Harus Ditingkatkan Untuk Lindungi Konsumen
“Ini adalah sanksi komprehensif terhadap utang negara Rusia. Yang berarti Rusia tidak dapat lagi mengumpulkan uang dari Barat dan tidak dapat memperdagangkan utang barunya di pasar AS atau pasar Eropa,” terang Biden, dilansir Reuters, kemarin.
“AS akan terus meningkatkan sanksi jika Rusia terus meningkatkan aksi di Ukraina,” ancam Biden memperingatkan.
Untuk diketahui, VEB dan Promsvyazbank Public Joint Stock Company memiliki 42 anak perusahaan. Lembaga keuangan pelat merah itu selama ini menopang kemampuan pertahanan dan ekonomi Rusia.
Baca juga : DPD Belajar Lembaga Keuangan Mikro Ke Jateng
Ada sejumlah nama orang dekat Putin di lembaga tersebut. Antara lain Aleksandr Bortnikov, Direktur Dinas Keamanan Federal (FSB) serta Ketua dan Kepala eksekutif Promsvyazbank Public Joint Stock Company, Petr Fradkov.
“Mereka berbagi keuntungan korup dari kebijakan Kremlin dan harus berbagi rasa sakit juga,” kata Biden tentang elite Rusia.
Langkah Biden itu dicermati Brian O’Toole, mantan pejabat Departemen Keuangan AS, yang merupakan analis ekonomi dan kebijakan luar negeri Atlantic Council’s GeoEconomics Center. Menurutnya, sanksi AS akan berdampak. Namun, tidak dalam waktu dekat.
Baca juga : Tok! OJK Larang Lembaga Jasa Keuangan Pasarkan Aset Kripto
“Saya pikir risiko yang mereka (Barat) hadapi dengan tidak mengejar bank komersial milik negara yang paling besar, sudah dianalisa Putin. Bahwa Barat tidak akan mau menanggung rasa sakit akibat sanksi ekonomi yang besar, jadinya dia (Putin-Red) dapat dengan aman memperluas ambisinya, “ katanya.
Sebelumnya, Gedung Putih mengatakan, invasi Rusia ke Ukraina sudah berlangsung, setelah Kremlin memerintahkan pasukan ke dua wilayah yang dikuasai separatis di Ukraina.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya