Dark/Light Mode

Wapres Wang Qishan Bicara Di World Peace Forum

China Butuh Dunia, Dunia Butuh China

Selasa, 9 Juli 2019 04:24 WIB
Wan Qishan memberikan pidato berisi masukan dalam acara diskusi di sela acara World Peace Forum, kemarin. (Foto : AFP).
Wan Qishan memberikan pidato berisi masukan dalam acara diskusi di sela acara World Peace Forum, kemarin. (Foto : AFP).

RM.id  Rakyat Merdeka - Tensi perang dagang China-Amerika Serikat (AS) terus naik turun. Masalah sempat mereda usai pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping di KTT G20 di Osaka, Jepang. Belakangan, tensi kembali memanas.

Halini terjadi setelah AS mengecam China yang menekan aksi protes di Hong Kong. Sementara China juga mengkritisi sikap AS yang terlalu ramah pada Taiwan, yang merupakan bagian dari China.

Dalam pidato pembukaan untuk World Peace Forum di Universitas Tsinghua di Beijing, Wakil Presiden (Wapres) China Wang Qishan seperti menyindir AS.

Wang memperingatkan proteksionisme atas nama keamanan nasional, tanpa menyebut AS, dan menyerukan negara-negara besar untuk berkontribusi lebih banyak bagi perdamaian dan stabilitas global.

Baca Juga : Dubes Rusia Hiburan Akhir Pekan, Nonton Balerina Indonesia-Australia

“Perkembangan yang terjadi di China tidak bisa dihentikan oleh negara manapun. Dan perkembangan yang terjadi di dunia juga tidak bisa menghentikan China,” ucap Wang.

Wang yang jarang berbicara di depan umum, menegaskan, semua negara kudu hidup berdampingan. Wang menekankan kembali komitmen negaranya untuk membuka diri. “Dunia membutuhkan China sama seperti China membutuhkan dunia,” kata Wang.

“Negara-negara besar harus memikul tanggung jawab mereka dan memberi contoh, memberikan lebih banyak kontribusi pada perdamaian dan stabilitas global, dan memperluas jalur pengembangan bersama,” imbuhnya.

“Apapun situasi global yang tengah terjadi, China akan terus berusaha mengembangkan diri lewat jalur damai. Kami siap bekerja sama dengan negara yang bersedia,” lanjutnya seperti dikutip Reuters.

Baca Juga : Berebut Kursi

Pemerintahan Trump menuduh China terlibat dalam praktik perdagangan tidak adil yang mendiskriminasi perusahaan AS, transfer teknologi paksa, dan pencurian hak kekayaan intelektual. Semua tuduhan dibantah Beijing.

Mereka menuduh AS sudah kelewat paranoid. Kedua belah pihak telah menaikkan tarif yang semakin parah pada impor masing-masing. China juga marah atas sanksi AS terhadap raksasa teknologi China: Huawei Technologies Co Ltd atas masalah keamanan nasional.

Perwakilan penting AS dan China mengorganisir dimulainya kembali pembicaraan pekan ini untuk mencoba menyelesaikan perang dagang ini.

Kedua belah pihak telah berkomunikasi melalui telepon sejak KTT G20 bulan lalu, ketika Trump dan Jinping sepakat untuk memulai kembali perundingan yang macet pada Mei.

Baca Juga : Porter Kereta

Pembicaraan macet setelah para pejabat AS menuduh China menarik kembali dari komitmen yang telah dibuat sebelumnya dalam teks perjanjian yang dikatakan para perunding hampir selesai. [DAY]