Dark/Light Mode

Ajak Lawan Politik Bersatu Bangun Filipina

Bongbong Peringati Aksi Penggulingan Sang Ayah

Senin, 27 Februari 2023 03:32 WIB
Para aktivis Filipina berkumpul dalam sebuah protes untuk memperingati 37 tahun Revolusi Kekuatan Rakyat 1986 yang menggulingkan mendiang diktator Ferdinand Marcos, di monumen Kekuatan Rakyat, di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 25 Februari 2023. (Reuters via Malay Mail)
Para aktivis Filipina berkumpul dalam sebuah protes untuk memperingati 37 tahun Revolusi Kekuatan Rakyat 1986 yang menggulingkan mendiang diktator Ferdinand Marcos, di monumen Kekuatan Rakyat, di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 25 Februari 2023. (Reuters via Malay Mail)

 Sebelumnya 
Para pengunjuk rasa itu meneriakkan: “Marcos, Duterte semua sama, diktator fasis”. Mantan Presiden Rodrigo Duterte adalah pendahulu Bongbong. Dan, Marcos didampingi Wakil Presiden Sara Duterte, mantan Wali Kota Davao yang merupakan putri Duterte.

Dilansir AFP, kemarin, sekitar 200 personel polisi mengawasi unjuk rasa itu. Para pendemo mengatakan, setidaknya 1.500 orang menghadiri aksi damai tersebut.

Namun, reporter AFP di lokasi memperkirakan, sekitar 700 orang yang ikut demo. Aktivis HAM veteran Suster Mary John Mananzan mendesak pengunjuk rasa untuk tetap waspada dengan kembalinya keluarga Marcos ke tampuk kekuasaan.

Baca juga : Sekali Klik, Tabungan Bisa Langsung Lenyap

Sementara demonstran lain, Julio Montinola (53) mengatakan, tantangan saat ini adalah bagaimana menjaga semangat oposisi tetap hidup.

“Sayangnya, itu tidak sesuai dengan pemahaman generasi sekarang,” kata Montinola.

“Buktinya, dia (Marcos Jr) dipilih rakyat,” cetus Montinola.

Baca juga : Lewat Pendidikan, KPK Dorong Peran Perguruan Tinggi Agar Korupsi Tak Berulang

Kyle Navera (13) mengatakan, dia telah mendengar banyak hal buruk mengenai pemerintahan Marcos Sr. Dia berharap, Bongbong tidak menjadi diktator seperti ayahnya.

“Saya harap dia (Bongbong) tidak menempuh jalan yang dipilih pendahulunya,” kata Navera.

Cristina Palabay dari aliansi HAM Karapatan khawatir, klan Marcos masih bertekad untuk membersihkan nama mereka dan mempertahankan kekayaan haram mereka, yang diperkirakan mencapai miliaran dolar.

Baca juga : TASPEN Bangun Gedung Tertinggi Di Jakarta

Sebagai informasi, pada 1986, ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di Manila selama empat hari dalam pemberontakan yang didukung militer melawan rezim Marcos. Klan Marcos melarikan diri dari Istana Kepresidenan pada 25 Februari 1986 dengan pesawat militer Amerika Serikat (AS).

Mereka diberitakan membawa tas dan kotak berisi permata, emas dan uang tunai. Setelah kematian Marcos di Hawaii, AS, pada 1989, keluarganya kembali ke Filipina untuk membangun kembali basis kekuatan politik dan merehabilitasi nama mereka.

Upaya mereka berhasil dengan kemenangan Marcos Jr dalam pemilihan Presiden Mei 2022, menyusul kampanye besar-besaran di media sosial yang menutupi sejarah kelam keluarganya. ■ 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.