Dark/Light Mode

Demokrasi Kunci Sukses Proses Perdamaian Aceh

Minggu, 25 Agustus 2019 00:07 WIB
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menjadi pembicara dalam the Ninth Princess Maha Chakri Sirindhorn Lecture on International Humanitarian Law, di Bangkok, Thailand, Jumat (23/8). (Foto: Dok. KBRI Bangkok)
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menjadi pembicara dalam the Ninth Princess Maha Chakri Sirindhorn Lecture on International Humanitarian Law, di Bangkok, Thailand, Jumat (23/8). (Foto: Dok. KBRI Bangkok)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam the Ninth Princess Maha Chakri Sirindhorn Lecture on International Humanitarian Law, di Bangkok, Thailand, Jumat (23/8). Wirajuda secara khusus diundang oleh Princess Maha Chakri Sirindhorn menjadi pembicara tunggal dalam Lecture ini dengan topik Aceh Peace Process (1999-2005); Keys to Final Solution. 

Acara ini dihadiri secara langsung oleh Princess Maha Chakri Sirindhorn dan Menteri Luar Negeri Thailand, Don Pramudwinai. Sekitar 500 tamu undangan yang terdiri dari Pejabat Pemerintah Thailand, Duta Besar, korps diplomatik, militer Thailand, akademisi, dan media juga tampak menghadiri kegiatan tersebut. 

Berita Terkait : Menpora Dukung Program Satu Medali Emas, Satu Perpustakaan

Hassan Wirajuda mengawali ceramahnya dengan menyampaikan bahwa tatanan global dunia pada saat ini terancam oleh adanya proxy wars di regional yang dapat memengaruhi kestabilan dan perdamaian. ASEAN sebagai organisasi regional telah berhasil mempertahankan perdamaian dan ketertiban kawasan lebih dari 50 tahun sejak didirikan. Walaupun konflik antarnegara di ASEAN telah berhasil ditiadakan, namun konflik di dalam negara masih ada seperti pengalaman Indonesia dalam permasalahan Aceh.

Seperti dalam keterangan yang disampaikan KBRI Bangkok, Hassan Wirajuda menjelaskan, akar permasalahan konflik Aceh antara lain ketidakadilan ekonomi. Operasi militer pemerintah pusat Indonesia untuk memerangi kelompok bersenjata tidak membuahkan hasil yang signifikan. Reformasi Indonesia akhirnya membuka jalan untuk melakukan dialog dan negosiasi dengan kelompok bersenjata yang akhirnya membawa kesepakatan perdamaian di Aceh.

Baca Juga : Kebijakan Kementan Dorong Ekspor Pangan Melesat

Ditekankan pula bahwa demokrasi telah memungkinkan Indonesia menerima dan mengeksplorasi ide-ide baru menuju perdamaian di Aceh. Sebagai lessons-learned dari konflik Aceh, Wirajuda menegaskan pentingnya sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan, terlebih di masyarakat yang majemuk seperti Indonesia. Dormant conflict yang terkait dengan isu agama perlu terus diwaspadai karena mudah disalahgunakan untuk kepentingan kelompok tertentu. 

Princess Maha Chakri Sirindhorn Lecture on International Humanitarian Law merupakan acara yang cukup bergengsi dan mendapatkan perhatian dari banyak kalangan di Thailand. Acara ini diluncurkan oleh Palang Merah Thailand bersama Kementerian Luar Negeri Thailand sejak 2003 dan bertujuan untuk memajukan dan menyebarluaskan pengetahuan tentang humanitarian international law ke masyarakat luas. Kesempatan khusus yang diberikan Hassan Wirajuda tidak lepas dari peran penting beliau sebagai Chief Negotiator dalam memajukan diplomasi kemanusiaan dan proses perdamaian di Aceh. [USU]