Dark/Light Mode

Duta Besar Rusia Untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva

Dibombardir Sanksi Barat, Ekonomi Rusia Tetap Kuat

Rabu, 7 Februari 2024 06:30 WIB
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva saat diwawancarai tim Redaksi Rakyat Merdeka di Jakarta, Kamis 1/2/2023. Foto: KHAIRIZAL ANWAR/RAKYAT MERDEKA/RM.ID
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva saat diwawancarai tim Redaksi Rakyat Merdeka di Jakarta, Kamis 1/2/2023. Foto: KHAIRIZAL ANWAR/RAKYAT MERDEKA/RM.ID

 Sebelumnya 
Bukan hanya di Je­pang, Amerika Serikat juga mem­buat kekacauan di 27 negara lainnya. Membuat kekacauan di Yugoslavia, Afghanistan, Irak, Libya, dan banyak lagi. Banyak negara yang tidak terima dengan tindakan Amerika Serikat. Tapi mereka tidak berani melawan. Karena apa?

Amerika Serikat adalah nega­ra besar dan memiliki kekuatan militer yang kuat. Jika mereka bilang negara anda aman, anda akan aman. Amerika Seri­kat akan datang dan menjarah sumber daya dan anda akan baik-baik saja. Jika melawan, Amerika Serikat akan meng­hancurkan negara anda secara ekonomi atau militer.

Rusia tidak suka ini. Rusia menilai semua negara itu setara. Tidak ada negara yang lebih dari negara lain. Bumi ini kecil. Kita harus saling bantu, bukannya saling memecah belah.

Bagaimana dengan kabar yang dihembuskan Barat bahwa Rusia sebagai dalang serangan Hamas ke Israel dan isu bahwa Rusia ikut campur dalam hasil Pemilu Presiden AS 2019?

Baca juga : Forum Rektor Indonesia Serukan Pemilu Damai Dan Aman, Demi Menjaga Persatuan

Barat selalu menganggap Ru­sia sebagai musuh. Mereka terus berupaya merendahkan Rusia sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kekuasaan dan dominasi mereka di dunia.

Coba lihat hasil dari sanksi ekonomi AS dan sekutunya. Kami tidak terpengaruh. Eko­nomi Rusia justru naik 4 persen. Sementara negara pemberi sanksi seperti Jerman dan se­jumlah negara di Eropa justru mengalami resesi besar.

Amerika Serikat menuduh kami ikut campur di Pilpres mereka. Itu lucu. Ini semua adalah terorisme informasi.Di Rusia ada lelucon bahwa Laut Mati yang ada di Israel dan Yordania itu mati dibunuh Putin. Semua pasti salah Rusia

Jadi, bagaimana nasib Ukraina ke depannya?

Baca juga : Antusias Warga Lihat Jokowi-Prabowo Makan Bakso Bareng: Semoga Tetap Merakyat

Seperti yang sudah saya tegas­kan, Rusia selalu terbuka untuk dialog. Pada 2022, Rusia sudah melakukan lima pertemuan untuk negosiasi dengan Ukraina di Turki.

Rusia membuat draft kesepakatan untuk memastikan keamanan Rusia dan Ukraina tidak menjadi anggota NATO. Draft ini sudah ditandatangani para delegasi. Lalu, apa yang terjadi kemudian?

Perdana Menteri Inggris saat itu, Boris Johnson, datang ke Kiev dan memerintahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk tidak menandatangani kesepakatan damai dengan Rusia. Sebelumnya, delegasi meminta Rusia untuk menarik pasukan dari Kiev sebagai bukti keseriusannya untuk berdamai. Rusia pun menarik pasukan dan delegasi Ukraina tetap tidak menandatangani draft damai.

Bagaimana dengan Peace Formula?

Baca juga : Dubes RI Untuk Venezuela Edy Mulyono Saksikan Penandatanganan MoU Kerja Sama Migas

Lalu, pada Oktober 2022, Presiden Zelensky (Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky-red) menandatangani dekrit yang memerin­tahkan penghentian dialog dengan Rusia. Sekarang, Dia malah mem­buat Peace Formula dan mengajak banyak negara untuk ikut serta. Tapi jika ditelaah, formula damai ini hanya untuk kepentingan Eropa.

Dalam formula tersebut, Zelensky meminta semua harus dikembalikan ke masa 1991, di­mana Crimea dan Donbass masih bagian dari Ukraina. Ini permin­taan konyol. Mereka tidak meng­hargai kerja keras rakyat Crimea yang memilih kembali ke Rusia secara legal lewat referendum.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.