Dark/Light Mode

KBRI Stockholm Gelar Diskusi Tata Laksana Pasien Covid-19 di Swedia

Rabu, 20 Mei 2020 02:35 WIB
KBRI Stockholm Gelar Diskusi Tata Laksana Pasien Covid-19 di Swedia

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada akhir pekan ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI Stockholm) mengadakan bincang online bersama WNI. Bertindak selaku narasumber adalah Ihdina Sukma Dewi, MD, PhD, dokter dan peneliti di Lund University Hospital, Swedia.

Ihdina mengangkat tema "Covid-19: Gejala Klinis, Diagnosis, dan Tata Laksana Pasien di Swedia". Pada sambutan pembukaannya, Duta Besar Indonesia untuk Swedia Bagas Hapsoro menyatakan, bincang virtual yang telah dilakukan beberapa kali ini baik untuk terus menjalin silaturahmi dan dapat dipergunakan WNI sebagai media untuk menanyakan langsung khususnya hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan di masa pandemi Covid-19.

"Pemerintah Swedia menyebutkan bahwa setiap warga harus tetap berhati-hati dan aturan social distancing juga tetap akan terus berlaku sebagaimana telah diputuskan sebelumnya. Hal ini penting kita ingat, karena di Stockholm sendiri telah terdapat lebih dari 10.000 orang terinfeksi Covid-19," ujar Bagas.

Baca juga : Indonesia Bersama Palestina di Tengah Pandemi Covid-19

"Sama halnya dengan di Latvia, walau sekarang aturannya lebih dilonggarkan, tapi warga diminta tetap berhati-hati dan penggunaan masker atau penutup wajah dalam transportasi publik sudah wajib. Mohon agar aturan-aturan ini selalu dipatuhi kita semua," tambah Bagas.

Dalam paparannya, Ihdina menyatakan bahwa virus Covid-19  memiliki masa inkubasi 2-14 hari dengan gejala klinis utama adalah demam, dan diikuti dengan gejala saluran pernapasan seperti batuk, hidung tersumbat, sesak napas, dan mungkin juga muncul gejala non-saluran pernapasan seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, mual, muntah, dan diare.

"Yang harus dipahami bahwa virus Covid-19, SARS-CoV-2 memasuki tubuh melalui saluran pernapasan dan berikatan dengan Angiotensin Converting Ezyme 2 (ACE 2) Receptors di tubuh.

Baca juga : Karyawan Hingga Direksi Jamkrindo Patungan Donasi Covid-19

"ACE2 ada di berbagai organ tidak hanya paru-paru, tapi juga hati, ginjal, usus, bahkan otak. Oleh karena itu, Covid-19 bisa mengakibatkan multiple organ failure," ujar Ihdina.

Dalam tata laksana pasien di Swedia, Ihdina menyatakan bahwa pasien yang tiba di rumah sakit dengan gejala klinis tersebut akan mendapatkan perawatan sesuai dengan medical assesment pasien tersebut.  Tidak semua pasien serta merta akan dimasukkan ke unit perawatan intensif.

Karena sebagai negara dengan rasio unit perawatan intensif per 100 ribu penduduk yang termasuk rendah dibandingkan negara Uni Eropa lainnya, membuat Swedia harus memperhitungkan dengan baik kapasitas unit perawatan intensif yang digunakan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi lonjakan yang dapat melumpuhkan fasilitas kesehatan seperti yang terjadi di beberapa negara Eropa lainnya, seperti Italia.

Baca juga : Efek Pandemi Covid-19, Banyak Satwa Kelaparan

Keputusan seorang pasien masuk ke perawatan intensif dilakukan tim dokter emergency rumah sakit. 

Kegiatan ini diikuti sejumlah WNI yang tinggal di Swedia, Latvia, negara-negara Eropa lainnya, bahkan yang tinggal di Indonesia. 

Kegiatan semacam ini dipandang baik untuk terus dilakukan guna menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan WNI di Swedia dan Latvia dalam masa pandemi Covid-19. [MEL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.