Dark/Light Mode

Intip Lebaran Virtual Di Tiongkok (3)

Tangan Besi Bukan Penentu Efektivitas Keberhasilan Lockdown Di Negeri Panda

Minggu, 24 Mei 2020 20:49 WIB
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Tiongkok Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun. Foto: Twitter @voiindonesia
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Tiongkok Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun. Foto: Twitter @voiindonesia

RM.id  Rakyat Merdeka -
Total warga terinfeksi virus corona se-Tiongkok saat ini tinggal seratusan. Di Beijing, Ibu Kota Tiongkok, bahkan hanya tinggal lima orang saja. Suksesi ini, ternyata bukan karena tangan besi penguasa. Tetapi sanksi sosial yang berat.

Demikian disampaikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Tiongkok Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun di acara RMChat Ngobrol Santuy, Sabtu (24/5). Acara ini dipandu host Mellani Eka Mahayana, wartawan Rakyat Merdeka.

Baca juga : Minimal Online Sehari 3 Kali

Pak Djo, sapaan akrab Djauhari Oratmangun bercerita, lockdown di Tiongkok secara substansi katanya tidak jauh berbeda dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ala Indonesia. Bedanya, kedisiplinan warganya dalam menjalankan kebijakan.
Contohnya begini, di salah satu apartemen di Tiongkok, ada seorang yang nyelonong ke luar tanpa meminta izin dengan pengurus apartemen. Kalau di Indonesia, mungkin setingkat Pak RT atau Pak RW. Padahal, selama Covid-19, setiap warga wajib melapor untuk keluar. Mau kemana, bertemu siapa.

Begitu orang itu mau kembali, area apartemen itu ditutup pengurus. Tidak diizinkan masuk tetangganya sendiri. Alhasil, orang itu pun kebingungan. Mau menginap di hotel, tidak diterima juga. 

Baca juga : WNI Rindu Rendang dan Opor Ayam

“Jadi harus lapor ke kantor polisi baru dikembalikan ke kompleknya lagi, dimarahin tetangganya juga,” tambahnya.

Nah, inilah menurut Pak Djo menjadi kunci keberhasilan lockdown di Tiongkok. Tinggal masyarakatnya disiplin tidak dengan peraturan yang diberikan pemerintah. Misalnya di China, selain harus lapor, warga hanya bisa keluar satu minggu sekali untuk membeli kebutuhan pokok.
Kemudian, maksimal tiga kali keluar rumah misalnya untuk keperluan membuang sampah. Semuanya saling mengawasi, tidak hanya petugas saja. Juga masyarakat, semuanya saling mengingatkan. 

Baca juga : Mentan SYL, Tiga Penentu Keberhasilan Pertanaman Padi Musim Gadu

Bertamu pun di Tiongkok sebenarnya bisa. Caranya begini, pihak yang akan ditamui lebih dahulu melaporkan akan kedatangan orang maksimum tiga orang. Siapa saja, dan kapan. Nanti, sang tamu akan diperiksa kesehatan. Setelah itu baru bisa berkunjung. [BSH]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.