Dark/Light Mode

Jangan Mainin Isu SARA Saat Corona

Amerika Saja Ancur-ancuran

Selasa, 2 Juni 2020 06:41 WIB
Aparat membuat barikade di sepanjang Lake Street ketika api membakar wilayah itu di malam kerusuhan dan protes atas kematian George Floyd Jumat pagi, 29 Mei 2020 di Minneapolis. (Foto David Joles/AP)
Aparat membuat barikade di sepanjang Lake Street ketika api membakar wilayah itu di malam kerusuhan dan protes atas kematian George Floyd Jumat pagi, 29 Mei 2020 di Minneapolis. (Foto David Joles/AP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peringatan keras bagi negara mana pun. Jangan coba-coba mainin isu SARA di saat warga sedang stres karena corona. Lihat saja Amerika Serikat. Negeri digdaya dan adikuasa itu sampai ancur-ancuran gara-gara ada kasus tewasnya warga kulit hitam oleh kezaliman seorang polisi. 

Ribuan warga turun ke jalan. Kantor- kantor dibakar. Toko-toko dijarah. Sepekan terakhir ini, Amerika Serikat mirip Indonesia di tahun ‘98. Gelombang protes di sejumlah negara bagian berujung ricuh. Polisi dan pengunjuk rasa bentrok. Sementara, aksi penjarahan makin besar.

Gelombang protes terjadi usai tewasnya George Floyd. Pria kulit hitam itu tewas karena dianiaya polisi di Minneapolis dengan cara diinjak lehernya. Aksi semena-mena itu pun ketahuan lewat video yang beredar. Warga Amerika lantas tersulut emosinya dan mengaitkan dengan isu SARA. Bahkan, Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, juga terbawa arus kemarahan warganya itu.

Baca juga : Dua Pemain Parma Positif Corona, Seri A Terancam Molor Lagi

“Dia akan hidup hari ini jika dia berkulit putih. Fakta-fakta yang saya lihat, yang minimal, tentu menuntun saya ke kesimpulan yang melibatkan ras,” kata Frey kepada CBS belum lama ini.

Aksi protes pun meletus di 48 kota se-antero AS. Bahkan sempat merangsek hingga gerbang Gedung Putih. Tidak hanya protes, tapi juga kerusuhan hingga tengah malam. Perusuh tidak lagi menghiraukan physical distancing atau jaga jarak dan pemberlakuan jam malam selama wabah Covid-19.

Proyektil, termasuk botol air, kembang api hingga batu bata dilempar ke gedung tempat ngantornya orang nomor 1 di Amerika Serikat itu. Jendela-jendela di pintu masuk hancur. Sejumlah mobil dibakar dan beberapa gedung termasuk bank lokal dirusak.

Baca juga : Jangan Bawa Corona Ke Desa

Kericuhan yang berujung penjarahan toko itu membuat 150 orang ditangkap pada Minggu (31/5) malam. Namun tak banyak menyurutkan aksi para pemrotes.

Pihak keamanan kemudian memperluas jam malam. Bila sebelumnya hanya diberlakukan di pusat kota, kini diperluas di beberapa negara bagian. Tapi bentrok dengan polisi justru tetap agresif. Kendaraan operasional dirusak dan dibakar. Sejumlah personel kepolisian di Miami hingga New York bahkan harus mencari cara lain untuk menghadapi demonstran.

Aparat keamanan secara serempak berlutut di hadapan pendemo untuk menunjukkan solidaritas atas kematian Floyd. Foto dan video aksi berlutut itu viral. Gubernur New York, Andrew Cuomo, memuji cara yang diambil para polisi tersebut.

Baca juga : Pahlawan Datang, Bajingan Muncul

“Ini adalah bagaimana perubahan dimulai,” tulis Cuomo via Twitter, dalam video polisi berlutut yang di-retweetnya.

Begitu juga dengan Komisioner Kepolisian New York (NYPD), Dermot Shea. Menurutnya, cara-cara seperti ini harus diperbanyak. Aksi berlutut ini dinilai berhasil menenangkan demonstran.

“Untuk saling melihat dan mendengar, untuk bekerja bersama, untuk mengakui bahwa perbedaan kita adalah kekuatan kita,” respons Shea dalam tanggapannya via Twitter. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.