Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono
Untuk Kepentingan RI, Benarkah Trump Lebih Baik Ketimbang Biden?
Sabtu, 31 Oktober 2020 13:58 WIB
Sebelumnya
Saya ingat, embargo dan sanksi militer terhadap Indonesia yang berlangsung selama 12 tahun, pada tahun pertama saya memimpin (tahun 2005) langsung dicabut, karena Bush dan Amerika yakin TNI telah melakukan reformasi dan juga menghormati HAM dan demokrasi.
Sebaliknya pula dengan Obama. Juga tidak benar kalau Obama tak tertarik dengan hubungan ekonomi, investasi dan bisnis dengan negeri kita dan hanya tertarik pada urusan demokrasi, HAM dan lingkungan misalnya.
Pada saat menghadiri pertemuan puncak East Asia Summit, yang dihadiri 18 negara di Bali tahun 2011, Obama menyempatkan pertemuan bilateral dengan saya. Di situ, Obama menggarisbawahi pentingnya peningkatan kerja sama investasi dan perdagangan antara Indonesia dan Amerika.
Bahkan, pada saat Obama berada di Bali, dilakukan penandatanganan kontrak bisnis antara swasta Indonesia dengan pihak Amerika.
Baca juga : Pengelolaan Sumber Daya Kemaritiman Perlu Lebih Dioptimalkan
Saya harus mengatakan, siapa pun presidennya, agenda kerja sama bilateral Indonesia-Amerika Serikat itu tetap luas dan mencakup sektor-sektor penting bagi kedua negara. Misalnya, kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, pertahanan dan keamanan, serta kerja sama bilateral di forum internasional.
Memang benar, sejumlah anggota kongres Amerika, termasuk para senatornya, sering memiliki perhatian khusus terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Barangkali, inilah yang mungkin kita rasakan terkadang berlebihan. Misalnya, urusan terorisme, HAM, lingkungan, kerja sama militer, investasi bisnis tertentu, masalah Papua, dan juga hubungan Indonesia-China.
Hal begini memang terjadi, terlepas siapa yang menjadi presiden Amerika, apakah dari Partai Republik ataupun dari Partai Demokrat.
Saya berpendapat, ini adalah bagian dari isu dan dinamika hubungan bilateral. Hal ini menjadi tugas pemerintah dan parlemen di kedua belah pihak untuk mengelolanya, termasuk para diplomat.
Baca juga : CEO Ruangguru: Masuk Stanford Jauh Lebih Susah Ketimbang Harvard
Pengalaman saya, isu seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Semuanya dapat kita kelola. Tak perlu kita merasa ditekan atau disudutkan. Tentu, tak perlu pula kita takut atau gentar. Kita mesti punya sikap dan posisi yang kuat, sesuai dengan kepentingan nasional kita.
Kepentingan Indonesia di atas segalanya, tanpa mengabaikan pentingnya kerja sama bilateral dan multilateral yang saling menguntungkan.
Dari semua cerita saya ini, dapatlah disimpulkan bahwa hubungan bilateral Indonesia-Amerika tidak semata-mata ditentukan oleh dari mana Presiden Amerika berasal, Demokrat atau Republik.
Lagi pula, kenapa kita harus takut soal demokrasi, HAM, rule of law dan juga lingkungan, kalau memang kita tidak melakukan kesalahan dan penyimpangan yang sangat serius.
Baca juga : Otoritas Saudi Tangkap Pria Yang Tabrakkan Mobilnya Ke Pagar Masjidil Haram
Sebenarnya, pentingnya kita menjaga nilai-nilai demokrasi, menghormati HAM, menegakkan pranata hukum secara adil dan memelihara lingkungan itu bukan untuk memuaskan masyarakat internasional. Apalagi, karena takut kepada negara lain. Semuanya itu adalah untuk kita sendiri. Untuk rakyat kita.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya