Dark/Light Mode

Siapkan Roadmap New Normal

Singapura Akan Perlakukan Covid-19 Sama Dengan Flu

Jumat, 25 Juni 2021 05:10 WIB
Para pejalan kaki menggunakan masker di kawasan OrchardRoad, Singapura, 9 September 2020.Mutasi. (Foto : CNA/Gaya Chandramohan).
Para pejalan kaki menggunakan masker di kawasan OrchardRoad, Singapura, 9 September 2020.Mutasi. (Foto : CNA/Gaya Chandramohan).

 Sebelumnya 
Suatu saat, warga yang ter­papar Covid-19 bisa menjalani pemulihan di rumah. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran, pandemi ini akan membebani layanan kesehatan.

Sementara itu, orang lain yang menjalin kontak dekat dengan pasien bisa membeli alat tes di apotek dan memeriksanya sendiri. Ke depan, tes Covid bukan menjadi alasan untuk mengarantina orang, namun sebagai alat saring bagi warga untuk masuk gedung perkantoran, mall, sekolah, dan lainnya.

Selain itu, warga Singapura bisa melakukan perjalanan denganmemegang sertifikat vaksin ke negara-negara yang telah berhasil mengendalikan wabah serta mengubahnya menjadi endemi. Mereka bahkan bisa terbebas dari karantina di negara tujuan jika hasil tes menunjuk­kan negatif.

Baca juga : Sistem Water-Cooled Pada Pendingun Udara Mampu mengurangi Penyebaran Covid-19

“Akhirnya, apakah kita bisa hidup berdampingan dengan Covid-19 juga bergantung pada penerimaan warga Singapura bahwa Covid-19 akan menjadi endemi dalam kebiasaan kolek­tif,” pernyataan itu lagi.

Para menteri itu juga mengatakan, jika semua memikul beban ini bersama, para karyawan menjaga keselamatan rekan mereka dengan tinggal di rumah ketika sakit serta pengu­saha tidak mempermasalahkan, masyarakat kita akan jauh lebih aman,” ujar para menteri.

Mutasi Tak Selalu Ganas

Baca juga : Pembangunan Ibu Kota Negara Akan Perhatikan Kearifan Lokal

Guru Besar Universitas Udayana, IGusti Ngurah Kade Mahardika, menjelaskan, virus Corona mudah bermutasi. Sehingga, perubahan virus yang kemudian mendominasi adalah hal wajar.

Dia mencontohkan, virus Covid-19 varian Alfa saat ini mendominasi temuan di dunia sekitar 60-65 persen.

Sementara itu, varian Delta mengalami kelonjakan temuan hingga 20 persen yang sebelum­nya hanya 2-5 persen.

Baca juga : Kendalikan Covid-19 Bukan Cuma Teori, Harus Ada Aksi

Akan tetapi, menurutnya, tidak semua mutasi virus meningkatkan keganasan. Ada ke­mungkinan mutasi virus Corona justru membuat virus menjadi tidak ganas.

Dia mencontohkan kejadian pandemi flu 100 tahun lalu. Saat itu, pandemi berhenti karena dua kemungkinan, virus ber­mutasi menjadi tidak ganas dan terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok secara alami karena tidak ditemukan­nya vaksin.

“Sebagai ahli virologi saya berdoa virus itu bisa bermutasi menjadi virus yang kurang ganas sehingga virus ini men­jadi tidak berbahaya lagi, sama seperti flu biasa,” dalam dialog virtual, YouTube FMB9ID_IKP, Selasa (22/6). [PYB]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.