Dark/Light Mode

Warga Eropa Dan Australia Demo Tolak Prokes Ketat

Senin, 26 Juli 2021 05:05 WIB
Demonstran meneriakkan kebebasan dari protokol kesehatan dalam unjuk rasa di Paris, Prancis. (Foto : REUTERS/BENOIT TESSIER)
Demonstran meneriakkan kebebasan dari protokol kesehatan dalam unjuk rasa di Paris, Prancis. (Foto : REUTERS/BENOIT TESSIER)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ratusan ribu warga di beberapa negara di Eropa dan Australia turun ke jalan pada akhir pekan lalu. Mereka menentang lockdown, kebijakan protokol kesehatan (prokes) ketat dan vaksinasi Covid-19.

Mayoritas aksi tersebut berujung ricuh sehingga memak­sa polisi menembakkan gas air mata ke arah massa. Di Prancis, diperkirakan 160.000 warga turun ke jalan, Sabtu (24/7). Demo ini dipicu pernyataan Presiden Pran­cis Emmanuel Macron yang akan membatasi warga belum divaksin ke restoran dan ruang publik.

“Kebebasan, kami mau kebe­basan!” teriak demonstran sam­bil menyebut Macron diktator. Personel kepolisian kemudian menghadang mereka dengan menembakkan meriam air.

Di Italia, massa turun ke jalan akibat kebijakan pemberlakuan “sertifikat hijau” jika ingin mengunjungi tempat wisata. Sertifi­kat itu akan diberlakukan mulai awal bulan depan untuk makan di restoran dan mengunjungi bioskop.

Berita Terkait : Percepat Kekebalan Komunal, Partai Gelora Gelar Vaksinasi Di Bekasi

Sertifikat hijau ini mirip dengan kartu sehat yang mengin­fokan bahwa pemegang kartu sudah memenuhi syarat vaksi­nasi dan dinyatakan sehat.

Pemberlakuan kartu ini telah memicu demonstrasi dan kema­rahan. Warga Roma, Napoli, dan Turin meneriakkan “kebebasan” dan “jatuhkan kediktatoran”. Banyak di antara peserta aksi tidak memakai masker sebagai bentuk protes mereka atas kebi­jakan Pemerintah.

Ribuan orang juga melakukan demo di London, Inggris. Diberitakan Associated Press kemarin, demonstran memprotes, aplikasi pelacakan yang digunakan Pemerintah Inggris membatasi pergerakan mereka. Lebih dari 600 ribu orang diminta untuk mengasingkan diri dalam satu pekan pada bulan ini.

Protes ini datang sepekan setelah sebagian besar pem­batasan untuk memutus rantai penularan virus Corona di Ing­gris, dicabut.

Berita Terkait : Mahfud: Sekarang Rakyat Taat Prokes Dan Rebutan Vaksin

Situasi di belahan benua lain, di Australia, juga tidak jauh ber­beda. Puluhan pengunjuk rasa ditangkap setelah pawai tidak sah di Sydney, kota terbesar di Australia, kemarin. Peserta menjuluki protes itu sebagai unjuk rasa “kebebasan”. Mereka membawa tanda dan spanduk bertuliskan “Bangun Australia”.

Aparat menyebutkan, su­dah menangkap 57 pendemo. “Kepolisian NSW (New South Wales) mengakui dan mendu­kung hak individu dan kelompok menggunakan hak kebebasan berbicara dan berkumpul secara damai. Namun protes hari ini melanggar protokol kesehatan,” kata kepolisian dalam pernyata­annya dikutip ABC, kemarin.

Demonstrasi yang lebih kecil juga terjadi di Melbourne. Massa menyalakan kembang api di depan Gedung Parlemen. Di Brisbane, aksi demo juga terjadi di Botanic Gardens.

Aksi massa itu dipicu pem­berlakuan kembali lockdown di seluruh Negeri Kanguru itu. Sebab, peningkatan kasus positif Covid-19 mencapai rekor 163 pada Sabtu (25/7).

Berita Terkait : Heboh, Seorang Pria Di Malaysia Berkostum T-Rex Saat Divaksin

Di saat bersamaan, tingkat vaksinasi negara itu juga masih terendah di antara negara maju, yakni kurang dari 14 persen yang telah divaksinasi.

Menteri Kesehatan Negara Ba­gian New South Wales Brad Haz­zard mengutip seruan Perdana Menteri NSW Gladys Berejik­lian, yang meminta negara bagian lain mengirim dosis vaksin tam­bahan ke NSW. Ibu kota negara bagian NSW ini adalah Sydney.

NSW merupakan pintu ger­bang untuk ke seluruh Australia. Menurut Hazzard, jika kasus semakin parah di wilayah itu akan menjadi masalah besar untuk seluruh negeri. Laporan Universitas Johns Hopkins, Australia mencatatkan 32.954 kasus serta 916 orang meninggal akibat Covid-19. [DAY]