Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - “Manusia yang tidak punya rasa malu bagaikan mayat yang berjalan”. Demikian kata pepatah kuno, Rasa malu (al-haya’) merupakan kriteria untuk mengukur seseorang beriman atau tidak beriman.
Rasulullah SAW pernah menegaskan: Al-Haya’ min al-iman (rasa malu merupakan bagian dari iman). Jadi, orang yang beriman ialah orang-orang yang mampu memproteksi diri dari segala hal yang memalukan. Biasanya, yang memalukan dalam hidup ini ialah pelanggaran agama, pelanggaran hukum positif, dan pelanggaran etika atau budaya lokal.
Pepatah leluhur kita juga mengingatkan kepada kita: “Lebih baik mati daripada bercermin bangkai”, dan khusus budaya etnik Bugis-Makassar sudah lama mempertahankan kepribadian Siri yakni rasa malu terhadap segala hal yang melanggar etika. Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, seringkali memilih mati ketimbang dipermalukan.
Dikisahkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya.” (Q.S. Yusuf/12: 24).
Baca juga : Memahami Cara Kerja Takdir
Sesungguhnya tanda yang dilihat ialah bahwa ia melemparkan pakaian ke wajah sebuah patung yang ada di rumah. Lalu Yusuf AS. berkata kepadanya: Apa maksudmu berbuat begini?” Jawabnya: “Sesungguhnya aku merasa malu.” Kata Yusuf: “Sesungguhnya aku lebih malu lagi kepada Allah.” Selanjutnya ditegaskan dalam firman Allah dalam Al-Qur’an. “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dalam keadaan malu-malu”. (QS. Al-Qasas/28:25). Sesungguhnya dia merasa malu, sebab ada seorang yang menawarkan kepadanya jamuan, maka ia malu untuk tidak memenuhinya. Rasa malu termasuk salah satu sifat bagi tuan rumah sebagai penjamu hidangan.
Pengalaman hidup Nabi Yusuf yang diabadikan di dalam Al-Qur’an itu menarik untuk dijadikan pelajaran bahwa segala perbuatan yang memalukan hanya akan membawa penyesalan, dan keberanian untuk berkata “tidak” kepada hal-hal yang memalukan akan mendatangkan keajaiban positif dari Allah SWT untuk yang bersangkutan. Namun, disadari hal ini amat sulit diwujudkan di dalam masyarakat modern, terutama warga perkotaan saat ini.
Baca juga : Anak Tangga Menuju Tuhan
Idealnya, seharusnya semua dosa, maksiyat, dan kedurhakaan adalah memalukan. Bukan saja malu terhadap sesama manusia, tetapi yang lebih penting ialah malu terhadap Zat Yang Maha Melihat, yakni Allah SWT.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.