Dark/Light Mode

Membaca Ulang Al-Qur’an (4)

Struktur Makna Esoterik Al-Qur’an

Minggu, 26 Maret 2023 06:22 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Untuk memahami makna batin tingkat ketiga ini diperlukan pengetahuan khusus yang diperoleh melalui metodologi khusus pula yang samasekali berbeda dengan metodologi keilmuan lainnya. Dengan kata lain, tingkatan lathaif ini hanya bisa dipelajari melalui metodologi hudhuri (knowledge by present), bukan melalui metodologi konvensional hushuli (knowledge by correspondent).

Keempat, inilah tingkat paling tinggi disebut haqqiq, yang khusus diperuntukkan kepada para Nabi yang ditujukan khusus Kitab itu. Kita tidak tahu metodologi apa yang digunakan untuk bisa memahami tingkatan ini. Yang jelas kalau itu hanya bisa difahami oleh para Nabi atau Rasul secara formal maka tertutuplah kemungkinan untuk memahami haqaiq al-Qur’an karena Nabi Muhammad SAW telah mengakhiri seluruh nabi dan rasul (khatam al-nubuwwah wa al-umursalin).

Hanya kalangan ulama Syi’ah dan kalangan sufi tertentu mengatakan masih adanya kemungkinan memahami makna lathaif ini jika seseorang sudah bisa mencapai tingkat kualitas kenabian (prophetic quality), yang diyakini kalangan imam atau al-auliya’ tertentu dalam lingkungan Syi’ah bisa mencapai makna itu.

Baca juga : Analisis Makna Isyarah

Di sinilah pentingnya al-imam al-muntadhar dianggap bisa menjadi perantara untuk bisa mengakses tingkat haqaiq ini.

Umumnya, ulama sunny tidak mengenal atau tidak sependapat dengan adanya pemilahan secara mikro tingkatan makna spiritual Al-Qur’an. Hal ini bisa difahami karena kalangan ulama sunny lebih mengedepankan pemahaman dan penafsiran Al-Qur’an itu secara eksoterik.

Berbeda dengan kalangan syi’ah yang tidak puas dengan pemahaman eksoterik dan selalu berusaha untuk memahami makna esoterik Al-Qur’an. Tentu saja tulisan ini tidak berpretensi mengukur dan menilai mana di antara kedua mazhab tersebut lebih tepat untuk saat ini.

Baca juga : Antara Al-Qur’an dan Bible

Namun, sekedar untuk mengingatkan, kini sudah saatnya kita ditantang untuk mengeksplor lebih dalam lagi makna Al-Qur’an guna memenuhi kehausan batin manusia-manusia modern yang batinnya kekeringan, karena tersedot oleh fragmatisme logika.

Sebaliknya tentu tidak bisa kita serta merta meninggalkan makna eksoterik Al-Qur’an karena justru inilah yang secara nyata dan terbukti menciptakan keteraturan di dalam masyarakat, terutama melalui aspek-aspek hukum kekeluargaan dan kemasyarakatan.

Perkawinan antara kedua model pendekatan ini sesungguhnya itulah yang diharapkan saat ini. Kini sudah saatnya dimunculkan sebuah kitab tafsir yang mengkombinasikan pendekatan metodologi hushuli dan metodologi khudhuri.

Baca juga : Al-Qur’an: Membumi Untuk Melangitkan

Mohon doa pembaca, penulis dengan segala keterbatasannya kini sudah memulai menggarap tafsir ini. Mudah-mudahan penulis bisa menyelesaikannya dalam waktu tidak terlalu lama, amin ya Rabb al-‘Arifin.■

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.