Dark/Light Mode

Menggagas Fikih Siyasah Indonesia (71}

Fikih Siyasah Kebhinnekaan (2)

Jumat, 11 Agustus 2023 06:05 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Kelom­pok inilah yang mempopulerkan istilah "masyarakat madani" sebagai wacana dalam kehidupan berbagsa dan bernegara lima tahun terakhir ini.

Ketiga, kecenderung­an untuk mengakui kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat sebagai suatu kenyatan final. Kelompok ini tidak memperjuangkan sebuah alternatif ideologis tertentu tetapi diserahkan kepada dialektika masyarakat itu sendiri yang melahirkan visi secara alamia.

Faktor representasi bukan sesuatu yang mutlak tetapi keutuhan pluralisme yang lebih ditekankan.

Baca juga : Fikih Siyasah Kebhinnekaan (1)

Masalah agama adalah salahsatu faktor yang sangat sensitif di Indonersia. Ini dapat dimaklumi karena bangsa Indonesia termasuk penganut agama yang setia. Solidaritas agama biasanya melampaui ikatan-ikatan primordial lainnya, seperti ikatan kesukuan dan ikatan kekerabatan. Oleh karena itu, penataan antar umat beragama dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus.

Jiwa yang pluralis ialah jiwa yang memiliki kemam­puan untuk memahami dan sekaligus memberikan toleransi terhadap nilai-nilai pluralitas yang hidup di lingkungan sekitarnya.

Nilai-nilai pluralitas ialah se­kumpulan kelompok nilai atau sub-kultur yang diikat oleh suatu kekuatan nilai lebih tinggi yang memung­kinkan masing-masing kelompok dan subkultur itu menyatu di dalam suatu wadah kebersamaan.

Baca juga : Politik Kemanusiaan

Berbeda dengan nilai-nilai heterogenitas yang biasa difahami sebagai sekumpulan kelompok nilai atau sub-kultur yang berdiri sendiri tanpa diikat oleh satu kesatuan nilai yang lebih tinggi.

Nilai-nilai kemajmukan Indonesia lebih tepat dise­but sebagai nilai-nilai plural ketimbang nilai-nilai heterogen, karena meskipun terdiri atas berbagai suku, etnik, bahasa, dan agama namun tetap merupakan satu kesatuan geokultural dan ideologis sebagaimana tercermin di dalam motto “Bhinneka Tunggal Ika”, bercerai-berai tetapi tetap satu.

Segenap warga bangsa Indonesia bersepakat utnuk menghimpunkan diri di dalam satu wadah kesatuanh yang disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, nilai pluralism Indonesia lebih dekat kepada jiwa segenap warga bangsa Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.