Dark/Light Mode

Teologi Lingkungan Hidup (6)

Fenomena New Consciousnes (2)

Selasa, 19 September 2023 06:10 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Pada saat bersanaan Kristen Eropa mulai memandang teologi dan sains sebagai bidang terpisah. Jika teologi mempelajari sains, menjelajahi hukum alam yang mengatur bumi dan dengan demikian mengawali era baru kekuasaan dan kemajuan Manusia, maka Tuhan tidak perlu terlibat. Rene Descartes (1596-1650), berpendapat manusia sudah bisa memperoleh informasi akurat dan dapat dipercaya tentang alam semesta, tanpa harus melibatkan referensi mitos termasuk agama.

Seorang ilmuwan harus mengosongkan pikiran dari wahyu dan tradisi Ilmiah. Mereka menganjurkan untuk tidak boleh mempercayai bukti yang diturunkan dari indranya, karena ini pun bisa menipu; dia bisa jadi bermimpi ketika berpikir ketika dia melihat atau menyentuh berbagai  benda-benda.

Baca juga : Alur Berfikir Logos

Dari sinilah pesan agama begitu tampak berbeda ­dengan pemikiran fragmatisme barat modern saat itu. Bahkan Descrates, mendeklarasikan konsepnya yang amat terkenal dengan istilah “Cogito ergo sum” (“Aku berpikir, maka aku ada”). Menurutnya, merupakan satu-satunya titik kepastian, yang tidak dapat disediakan oleh dunia di luar dirinya. Bagi Descartes, pikiran ­modern telah secara sengaja menarik diri dari alam; pikiran semesti­nya merupakan sebuah dunia yang tersendiri, otonom tak terpengaruh oleh dan terpisah dari segala sesuatu yang lain.

Alam tidak bisa menga­takan apa pun kepada kita tentang Tuhan, yang dianggap oleh para ahli agama sebagai sang realitas tertinggi. Feno­mena alam malah diserupakan ­dengan mesin-mesin baru yang mulai bermunculan di Eropa abad ke-17M seperti jam, kincir, dan air mancur.

Baca juga : Alur Berfikir Mitos

Etos rasional Descartes didukung oleh fisikawan dan filusuf Inggris, Isaac Newton (1642-1727), yang berpandangan bahwa alam tidak lagi memiliki inti suci; materi, katanya, tidak bernyawa dan lembam, tidak mampu ber­gerak atau berkembang kecuali jika digerakan oleh kekuatan dari luar. Terlebih lagi Newton menyatakan semacam teo­logi baru yang meng­anggap Tuhan dire­duksi menjadi se­buah fenomena ­fisika. Ia mem­berikan dukungan terha­dap pernyataan Bible yang menyatakan bahwa “keutamaan manusia” dari kisah Kitab Kejadian Bible.

Newton mendefinikasikan ­esensi Tu­han sebagai domina­tion ­(“Penguasa), yang dia indentifikasi dengan gaya gra­vitasi yang mengontrol kosmos. Ti­dak ada transsendensi karena Tuhan ini tak lain adalah versi manusia ilmuan yang lebih besar dan lebih berdaya, “Agen sukarela” yang amat terampil dalam Mekanika dan Geometri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.