Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Teologi Lingkungan Hidup (28)
Relasi Tuhan dan Alam: Keberadaan Tuhan (9): Perspektif Agama Hindu (3)
Kamis, 12 Oktober 2023 06:10 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik
Tausiah Politik
Sebelumnya
Jika seseorang sudah sadar terhadap hanya ada satu wujud dan itu adalah dirinya, ketika orang itu dengan tegas manyatakan ”Aku adalah Dia”, apakah kesensaraan masih akan mendera dirinya? Ketika seseorang berjumpa dengan Tuhan (Atma), yang tak lain adalah dirinya sendiri, Tuhan Yang Maha Esa, Dia berkuasa untuk segala hal, maka rasa takut sudah tidak ada lagi.
Pandangan seperti ini dalam Upanisad disebut Moksha (Pembebasan/Liberation). Ini sebuah kemerdekaan dan kebebasan dari keragu-raguan dan ketidak jelasan, rasa takut dan kecemasan menjadi terabaikan untuk selamanya. Semua perasaan duka dan kesedihan menjadi legah. Yang bersangkutan sudah memahami rahasia segala wujud. Beban hidup masa lampau termasuk kematian, dan semua kegelapan menjadi sirna seiring dengan datangnya cahaya Kebenaran.
Baca juga : Relasi Tuhan dan Alam: Keberadaan Tuhan (8): Perspektif Agama Budha (2)
Jika kearifan seseorang sudah memahami bahwa segalanya melalui Yang Maha Agung dan rohnya ada di mana-mana (omnipresent spirit) hadir di dalam diri kita, maka lalu kita sadar baik didalam siaga maupun dalam mimpi, maka kita berada di balik segala duka cita. Lebih lanjut dia akan tahu Dirinya sebagai hakekat hidup, dia akan menikmati kehidupan, bagaikan kumbang yang merasakan nikmatnya mengisap madunya kembang.
Jika orang sudah menjumpai hakekat kebenaran maka ia akan menyatu dengan-Nya. Tujuan hidupnya sudah penuh dengan makna. Dia selamanya akan berada di balik semua yang menakutkan.
Baca juga : Relasi Tuhan Dan Alam: Keberadaan Tuhan (7): Perspektif Agama Hindu (2)
Jika orang sudah memahami Tuhannya maka ia akan bebas. Ia terbebas dari dari segala rasa takut dan cemas. Kelahiran dan kematian sudah tidak ada lagi. Jika rasa penyatuan mendalam dengan Tuhannya berada di balik alam maka dunia ketiga, yakni dunia Roh ia temukan, dan ia sudah memiliki semuanya bersama dengan Sang Maha Esa. (42).
Dalam keadaan seperti ini Brahma menjadi Atma dan Atma menjadi Brahma. Atma/Braahma menjelma menjadi dirinya, dengan demikian ia sudah mengalami pembebasan mutlak (Moksha). Bagaimana memperoleh pengalaman spiritual ini? Apakah hal itu bisa terjadi? Bagaimana sesuatu yang permanen (unmoving) diidentikkan dengan diri atau alam semesta yang berubah terus menerus? Bagaimana mungkin alam semesta yang terdiri atas berbagai hal yang sifatnya serba sementara, lahir, mati, menderita, tersiksa, lalu mati bisa diidentikkan dengan Tuhan, yang dikenal tidak berbentuk (formless), tidak berubah, dan azali, tidak diawali dan diakhiri ketiadaan? Bagaimana mungkin menggabungkan zat abadi (eternal self) dengan apa yang dirasakan sebagai kehidupan sementara (transient self) di dalam alam yang fana ini? Apakah di dalam diri kita ada dua unsur yang berbeda? Apa yang dianggap sebagai diri kita selama ini hanya keberadaan ilusi, seperti dipersepsikan oleh Upanisad.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya