Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Teologi Lingkungan Hidup (82)
Antropokosmisme vs Antroposentrisme
Tausiah Politik
Sebelumnya
Antroposentrisme manusia sepertinya sulit untuk ditinggalkan karena terbukti memberi keuntungan jangka pendek. Antroposentrisme baru bisa ditinggalkan jika terbukti secara nyata menimbulkan ancaman nyata dalam kehidupan umat manusia.
Yang bisa merubah pandangan manusia ialah manakala terjadi musibah berupa gempa, banjir, tanah longsor, anomali cuaca, dan pencemaran lingkungan yang berdampak negatif pada kesehatan manusia.
Baca juga : Menggagas Antropokosmisme
Biasanya jika terjadi musibah seperti tadi manusia cepat memberikan respon guna menggulangi musibah tersebut. Hanya saja jika musibah itu sudah selesai dan Kembali situasi alam semesta menjadi normal manusia lupa lagi untuk menindak lanjuti program-program yang sudah direncanakan.
Badan PBB juga terkadang tidak mendapatkan perhatian serius dari nagara-negara anggotanya untuk merespon program jangka Panjang untuk masalah penyelamatan lingkungan hidup. Banyak resolusi dan Keputusan PBB tentang lingkungan hidup tidak direalisasikan oleh sejumlah negara anggota.
Baca juga : Berkenalan Dengan Penghuni Alam Lain
Cara yang paling mungkin efektif bisa dilakukan ialah bagaimana menumbuhkan kesadaran baru umat manusia tentang betapa perlunya merubah pandangan hidup (world views) umat manusia tentang relasi manusia dan lingkungan hidup. Sudah saatnya manusia berani mengambil Keputusan mendasar tentang penyehatan dan pelestarian lingkungan hidup untuk dan demi anak cucu kita di masa depan.
Perlunya ada kesadaran global untuk memandang ala mini dengan penuh kasih saying, seperti halnya kasih saying yang muncul antara sesama umat manusuia. Bagaimana alam semesta ini diperlakukan sebagai layaknya “manusia” yang memang selalu membutuhkan kasih sayang. Di sinilah perlunya melibatkan Bahasa agama di dalam menumbuhkan rasa kasih saying antara sesame warga planet.
Baca juga : Bagaimana Memakmurkan Alam?
Adalah sudah tidak zamannya lagi kita menganggap alam semesta hanya sebagai obyek dan manusia sebagai subyek, apa lagi dengan mengesankan bahwa manusia bukan alam tetapi sebagai subyek untuk menggunakan dan memanfaatkan alam semesta.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu, 13 Desember 2023 dengan judul "Teologi Lingkungan Hidup (82), Antropokosmisme vs Antroposentrisme"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.