Dark/Light Mode

Durna Dan Falsafah Ember

Senin, 14 Juni 2021 06:01 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi mendorong orang untuk berbuat hal-hal positif. Seperti kemauan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri. Banyak para tokoh back to kampus untuk belajar jenjang akademis yang lebih tinggi. Mulai dari tokoh politik, pensiunan pejabat publik, mantan menteri dan para selebritis belajar untuk mewujudkan personal achievement mereka. Jenjang pendidikan yang diambil beragam mulai tingkat S1, Master, dan Program Doktor. Belum lagi pemberian gelar kehormatan dari perguruan tinggi kepada tokoh yang dianggap berjasa kepada bangsa dan negara. 

“Pantesan saat teleconference atau zoom banyak yang pamer rak buku,” celetuk Petruk, sambil cengengesan. Romo Semar hanya mesem enggan untuk nimbrung komentar fenomena minat belajar para tokoh. Pada dasarnya kemauan untuk belajar merupakan perbuatan baik dan terpuji. Semar sedang gundah dengan rencana pemerintah memungut pajak sembako dan uang sekolah. Walaupun pemungutan pajak tersebut masih dalam tahap rencana tapi dampak kepada masyarakat sudah mulai terasa. 

Berita Terkait : Melawan Virus Rajamala

Seperti biasa Romo, Semar ditemani kopi pahit dan pisang rebus sebagai menu favorit sarapan paginya. Kepulan asap rokok klobot jagung membawanya ke zaman mudanya Pandawa dan Kurawa. Drestarastra menunjuk Pandita Durna sebagai gurunya para Kurawa dan Pandawa. Rupanya pengangkatan Durna sebagai guru besar Kurawa menuai pro dan kontra di Hastina.

Kocap kacarito, Drestarastra dititipi pusaka ampuh berupa minyak Tala oleh adiknya Pandu Dewanata. Sebelum mangkat, Pandu berpesan kepada Drestarastra agar minyak Tala diberikan kepada anak-anaknya Pandawa kalau sudah menginjak remaja. Rupanya ada rasa iri dan meri dari pihak Kurawa. Kurawa ingin memiliki minyak Tala yang sedang dipegang oleh Destrarastra. Khasiat minyak Tala sangat ampuh. Kalau dioleskan ke tubuh tidak mempan terhadap senjata tajam. 

Berita Terkait : Perilaku ``Nggege Mongso`` 

Drestarastra bimbang untuk menyerahkan minyak Tala kepada Pandawa. Saking bingungnya, pegangan tempat minyak Tala jatuh ke dalam sumur tua. Segala upaya untuk mengangkat kembali minyak Tala dari sumur tidak membuahkan hasil.
 Selanjutnya