Dark/Light Mode
- Sabtu Berkah Bareng Ojol, Kapolda Metro Jaya Ajak Pengemudi Utamakan Keselamatan
- Menperin: Pendidikan Vokasi Kunci Cetak SDM Industri Unggul
- Nawakara Edukasikan Generasi Muda Soal Keamanan Hingga Kepedulian Lingkungan
- BRI Peduli Salurkan 270 Unit Mesin Pompa Air Bantu Kendalikan Api di Kalimantan
- Pemprov DKI Siapkan 11 Rusun dalam APBD 2027, Rorotan dan Marunda Prioritas
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Isu mayoritas dan minoritas masih sering menjadi perbincangan di masyarakat. Apakah itu dilihat dari segi agama, etnik, bahasa, dan primordialisme lainnya. Bahkan terkadang isu mayoritas sering dijadikan legitimasi untuk melakukan sesuatu yang tidak adil terhadap kelompok minoritas.
Baca juga : Bentuk-bentuk Penistaan (2)
Sebaliknya juga, kelompok minoritas sering mendramatisasi sesuatu secara berlebihan terhadap kelompok mayoritas. Tentu saja kedua hal ini tidak sehat di dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga : Bentuk-bentuk Penistaan
Dalam lintasan sejarah, Nabi tidak pernah memperkenalkan istilah kelompok mayoritas-minoritas (aktsariyah-aqalliyah). Baik ketika ia menjadi kelompok minoritas di Mekkah, maupun ketika menjadi kelompok mayoritas di Madinah.
Baca juga : Menayangkan Wajah Nabi (2)
Istilah kelompok mayoritas-minoritas muncul dalam dunia Islam, menurut Dr. Kamal Said Habib, dikenal dalam pemerintahan Dinasti Utsmani (Kerajaan Ottoman) Turki ketika bersinggungan dengan beberapa kelompok masyarakat/negara yang berada di bawah kelompok protektorat negara-negara besar Eropa.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.