Dark/Light Mode
- Gerak Cepat, Waskita Karya Salurkan Ribuan Bantuan Untuk Korban Gempa NTT
- Juventus Menang Tipis di Pekan Pertama Serie A 2026/27
- Ibrahima Konate Ingin Buktikan Diri Di Real Madrid
- Atasi Karhutla Riau, Prabowo Minta Bangun 306 Sumur Bor Di Dekat Hotspot
- Calon Bos OJK Sarjito Beberkan Tantangan Bursa Mineral RI Agar Dipercaya Dunia
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Isu mayoritas dan minoritas masih sering menjadi perbincangan di masyarakat. Apakah itu dilihat dari segi agama, etnik, bahasa, dan primordialisme lainnya. Bahkan terkadang isu mayoritas sering dijadikan legitimasi untuk melakukan sesuatu yang tidak adil terhadap kelompok minoritas.
Baca juga : Bentuk-bentuk Penistaan (2)
Sebaliknya juga, kelompok minoritas sering mendramatisasi sesuatu secara berlebihan terhadap kelompok mayoritas. Tentu saja kedua hal ini tidak sehat di dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga : Bentuk-bentuk Penistaan
Dalam lintasan sejarah, Nabi tidak pernah memperkenalkan istilah kelompok mayoritas-minoritas (aktsariyah-aqalliyah). Baik ketika ia menjadi kelompok minoritas di Mekkah, maupun ketika menjadi kelompok mayoritas di Madinah.
Baca juga : Menayangkan Wajah Nabi (2)
Istilah kelompok mayoritas-minoritas muncul dalam dunia Islam, menurut Dr. Kamal Said Habib, dikenal dalam pemerintahan Dinasti Utsmani (Kerajaan Ottoman) Turki ketika bersinggungan dengan beberapa kelompok masyarakat/negara yang berada di bawah kelompok protektorat negara-negara besar Eropa.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.