Dark/Light Mode
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Bersama Danantara, BRI Kontribusikan Pajak Terbesar Dukung Pembangunan Nasional
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- BPJS Ketenagakerjaan Bekali Ahli Waris Jadi Wirausaha Lewat Program PEKA
- PTPP Raih Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Surabaya Senilai Rp 151,9 Miliar
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Isu mayoritas dan minoritas masih sering menjadi perbincangan di masyarakat. Apakah itu dilihat dari segi agama, etnik, bahasa, dan primordialisme lainnya. Bahkan terkadang isu mayoritas sering dijadikan legitimasi untuk melakukan sesuatu yang tidak adil terhadap kelompok minoritas.
Baca juga : Bentuk-bentuk Penistaan (2)
Sebaliknya juga, kelompok minoritas sering mendramatisasi sesuatu secara berlebihan terhadap kelompok mayoritas. Tentu saja kedua hal ini tidak sehat di dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga : Bentuk-bentuk Penistaan
Dalam lintasan sejarah, Nabi tidak pernah memperkenalkan istilah kelompok mayoritas-minoritas (aktsariyah-aqalliyah). Baik ketika ia menjadi kelompok minoritas di Mekkah, maupun ketika menjadi kelompok mayoritas di Madinah.
Baca juga : Menayangkan Wajah Nabi (2)
Istilah kelompok mayoritas-minoritas muncul dalam dunia Islam, menurut Dr. Kamal Said Habib, dikenal dalam pemerintahan Dinasti Utsmani (Kerajaan Ottoman) Turki ketika bersinggungan dengan beberapa kelompok masyarakat/negara yang berada di bawah kelompok protektorat negara-negara besar Eropa.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.