Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bolehkan Tarawih Di Metaverse, Ini Tanggapan Pakar Komunikasi Unair

Sabtu, 16 April 2022 22:12 WIB
Kerajaan Arab Saudi yang secara resmi membuat Kabah di metaverse. (Foto NUOnline)
Kerajaan Arab Saudi yang secara resmi membuat Kabah di metaverse. (Foto NUOnline)

RM.id  Rakyat Merdeka - Isu tarawih metaverse ramai diperbincangkan menyusul pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merencanakan simulasi ibadah haji di metaverse. 

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Rachmah Ida menyatakan, salat tarawih tidak bisa dilakukan di dalam dunia metaverse.

Berita Terkait : Obral Sertifikat Halal Gratis Bagi UMK, Ini Alasan Kemenag

Rachmah Ida menjelaskan, ia setuju dengan pendapat MUI bahwa metaverse boleh digunakan jika untuk simulasi ibadah belaka seperti haji. Hal ini penting agar memudahkan para jemaah nantinya ketika berada di Makkah dan Madinah.

Ida lantas menjelaskan, ada yang salah kaprah dalam masyarakat soal bagaimana teknologi dan perkembangannya, serta pemahaman terkait dengan agama. Menurutnya, penggunaan metaverse tidak kompatibel dalam tarawih, sebab di dalamnya ada avatar.

Berita Terkait : Kunker Brebes, Jokowi Serahkan Bansos Di Pasar Tanjung Dan Pasar Bulakamba

Avatar ini, menurutnya, buatan manusia. Sedangkan ibadah seperti salat bukan sekadar gerakan belaka, tetapi melibatkan koneksi antara Tuhan dan hati manusia.

"Artinya pelaksanaannya harus hadir secara fisik karena teknologi sifatnya sekuler. Sementara agama sifatnya individual. Apalagi tarawih berkaitan dengan hukum agama islam," paparnya dikutip dari situs resmi UNAIR, Kamis (14/4).
 Selanjutnya