Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mandi Safar, Tolak Bala Masyarakat Air Hitam Di Hari Rabu Wekasan

Kamis, 22 September 2022 19:58 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Di Kawasan Delta Sungai Batanghari, dekat Taman Nasional Berbak, Kabupaten Tanjung Timur, Provinsi Jambi, ada sebuah desa pesisir bernama Air Hitam Laut.

Desa di tepi pantai ini spesial karena dijadikan tempat bagi warga Jambi untuk melakukan ritual budaya Mandi Safar. Konon, pada bulan Safar, Allah SWT menurunkan ratusan ribu macam bencana ke dunia. Terutama, pada hari Rabu terakhir pada bulan ini.

Hari nahas ini dibahasakan dalam Al-Quran Surat 54 ayat 19 sebagai yaumi nahsiin mustamirrin alias hari nahas yang menerus.

Ayat ini kemudian banyak dibahas oleh para ulama ahli tafsir. Hal ini juga dipercaya oleh masyarakat Jambi dan menjadi dasar dari pelaksanaan ritual Mandi Safar.

Meskipun, mereka menegaskan, bahwa ritual ini hanyalah sebuah budaya turun-temurun dan bukan termasuk dari ritual agama.

Berita Terkait : Kepala BPIP Minta Masyarakat Sidikalang Antisipasi Ideologi Selain Pancasila

Untuk mencapai Desa Air Hitam Kecamatan Sadu, Tim Ekspedisi Sungai Batanghari dari Kenduri Swarnabhumi Kemendikbudristek melakukan perjalanan dengan kapal laut selama hampir 4 Jam dari Dermaga Muara Sabak, Kampung Singkep, Muara Sabak Barat.

Jalur tercepat menuju ke Desa Air Hitam Laut harus menelusuri Sungai Batanghari hingga keluar muara. Lalu menerjang laut lepas selama 3 jam sebelum akhirnya berlabuh di Desa Air Hitam Laut.

Perjalanan darat bisa dilakukan, tapi membutuhkan waktu hingga minimal 12 jam setelah melewati jalan aspal berlubang.

Para Rabu 21 September kemarin, tepat pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar 1444 H, Tim Ekspedisi bergabung dengan warga Desa Air Hitam Laut untuk ikut merayakan ritual budaya Mandi Safar.

Ritual budaya tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Namun, kini menjadi festival budaya dan dihelat setiap tahun oleh pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Berita Terkait : Stop Kekerasan Di Pesantren!

"Awalnya, Mandi Safar adalah ritual warga setempat yang dilakukan masing-masing individu. Secara turun temurun," kata Sekda Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Sapril. 

Namun, ritual tersebut, mulai dikemas secara serius oleh pemerintah Jambi pada tahun 1970. Dengan kegiatan budaya yang bersifat masif.

Setiap tahunnya, acara Mandi Safar didatangi ribuan wisatawan. Lokasi kegiatan budaya tersebut pun mulai dihelat di pinggir pantai. Bukan lagi di rumah masing-masing warga Desa Air Hitam Laut.

"Itu murni ritual budaya saja, bukan ritual agama. Selalu dilaksanakan pada bulan Safar tahun Hijriah. Tujuannya untuk menolak bala. Agar warga desa Air Hitam laut itu bisa sejahtera," ucap Sapril.

Tim Ekspedisi tiba sehari sebelumnya yakni pada Selasa (20/9) di Dermaga Air Hitam Laut saat matahari berada tepat di atas kepala. Tim Ekspedisi disambut warga setempat yang menarikan Tari Sekapur Sirih, khas tari Melayu.

Berita Terkait : Ganjar Bantu Masyarakat Kurang Mampu Bisa Nikmati Rumah Layak Huni

Tim dan seluruh rombongan Kenduri Swarnabhumi menginap di rumah warga dan komunitas Air Hitam. Tim Ekspedisi kebetulan menempati sebuah rumah yang dekat dengan pantai.

Pantai tempat Ritual Budaya Air Hitam Laut juga dikenal dengan nama Pantai Babussalam. Keesokan harinya, ribuan orang tumpah ruah membanjiri Pantai Babussalam, Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Bukan hanya diramaikan warga desa tersebut, pendatang juga ada yang berasal dari luar Jambi. Ritual ini akan dipimpin oleh para tetua adat dan dibantu oleh Komunitas Budaya Air Hitam yang terdiri dari pemuda dan pemudi Desa Air Hitam Laut.

"Mandi Safar ini ritual budaya, bukan syariat Islam. Selalu digelar setiap Rabu bulan Hijriah," kata Ketua Adat Desa Air Hitam Laut sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Wali Petu, Tanjung Jabung Timur, As'ad Arsyad.
 Selanjutnya