Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pemakaian Air Tanah Kudu Distop

Air Laut Sudah Tembus Sampai Ke Bundaran HI

Minggu, 9 Januari 2022 06:47 WIB
Ilustrasi bangunan di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, terendam air laut akibat penurunan permukaan tanah. (Foto: Antara)
Ilustrasi bangunan di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, terendam air laut akibat penurunan permukaan tanah. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi air tanah tidak bisa dianggap sepele. Tak hanya menyebabkan permukaan tanah turun, kegiatan tersebut berdampak pada masuknya air laut di bawah tanah daratan hingga mencapai 14 kilo meter (km) dari tepi pantai.

Untuk mencegah Jakarta tenggelam, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta disarankan membuat peta jalan atau rencana induk pengurangan bertahap pengambilan air tanah.

Berita Terkait : Dari Jauh, Bisa Lihat Mata Bor Nembus Perut Bumi

Pakar Tata Kota Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan, faktanya Jakarta telah mengalami penurunan muka tanah sekitar 8-24 centimeter (cm). Terutama, di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara ke laut. Penyebabnya, karena penyedotan air tanah yang terus menerus.

“Penyedotan air tanah membuat rongga-rongga air kosong. Kerusakan makin parah karena tekanan pembangunan gedung dan lalu lalang kendaraan berat,” jelas Nirwono, saat dihubungi, kemarin.

Berita Terkait : Pemerintah Kudu Cabut IUP Pengusaha Batu Bara Nakal

Berdasarkan data penelitian, papar Nirwono, rongga yang kosong akibat penyedotan air tanah sudah mulai terisi oleh air laut. Yaitu, lewat intrusi air laut sampai 14 km dari pantai menjorok ke daratan. Atau, sekarang sudah sampai sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Pada saat bersamaan, akibat pemanasan global, melelehnya es di kutub utara menyebabkan permukaan air laut naik sekitar 4-8 cm per tahun di Pantura Jakarta. Untuk menghadapi fenomena itu, menurutnya, diperlukan tanggul raksasa untuk menahan air.

Berita Terkait : Fasilitas Karantina Di Surabaya Sudah Siap, 1.900 Tempat Tidur Bisa Digunakan

“Sebenarnya saat banjir besar melanda Jakarta pada 1996 dan 2002, sepertiga wilayah DKI Jakarta bisa dikatakan sudah tenggelam. Kota sempat lumpuh total selama 3 hari,” ungkap Nirwono.

Nirwono mengungkapkan temuan para peneliti di ITB yang tengah membuat simulasi hidrologi. Hasil dari simulasi tersebut menyebutkan, jika tidak ada upaya melakukan pembenahan radikal dalam tata kelola air dan penanganan banjir, muka pantai Jakarta sudah masuk di daerah Dukuh Atas pada tahun 2050.
 Selanjutnya