Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Keempat, soal akidah dan keyakinan seorang Muslim tentang patung. Kata Somad, dalam Islam dijelaskan bahwa malaikat tidak masuk ke rumah jika di dalamnya ada patung. Kenapa?
Karena patung adalah satu di antara tempat-tempat tinggal jin. “Oleh sebab itu penjelasan itu saya jelaskan untuk menjaga akidah umat Islam saya tidak sedang dalam kapasitas perbandingan agama, atau berdebat atau berdialog tapi menjelaskan akidah umat Islam,” urainya dengan menyertakan beberapa ayat.
Kelima, soal kajian. Somad bilang, dia tidak pernah lagi memberikan kajian rutin subuh setelah keliling tabligh akbar. Karena merasa tak salah, Somad tak merasa perlu untuk meminta maaf.
Baca juga : Dilaporkan Menghina Kristiani,Ustaz Somad Ketusuk Salib
Ceramah itu, kata dia, sudah sesuai ajaran Islam. Dia kemudian mengutip sebuah ayat Al-Quran.
“Sesungguhnya kafir lah orang yang mengatakan Allah itu tiga dalam satu, satu dalam tiga. Saya jelaskan itu di tengah umat Islam. Otomatis orang luar yang mendengar itu tersinggung atau tidak, tersinggung, apakah perlu saya minta maaf?
Sudah terjawab. Itu ajaran saya,” ucapnya, “Kalau saya perlu minta maaf, berarti ayat itu perlu dibuang. Nauzubillah.” Soal perekaman, Somad mengatakan, tak mungkin dia mengatur satu per satu perilaku jemaah yang menghadiri pengajiannya.
Baca juga : Ketua KPK Ngaku Banyak Salahnya
“Tak mungkin pula saya buat perjanjian semua yang mau masuk ke sini (tanda tangan) materai enam ribu, tak boleh disebarkan. Payah kali lah ceramah sekarang ini kalau begitu,” keluhnya.
KH Masduki Baidlowi ikut bicara. Dia berharap, kasus ini tak dibawa ke ranah hukum. Jika itu terjadi, dikhawatirkan persoalan-persoalan serupa juga bakal menempuh cara yang sama.
Dia menilai, penyelesaian konflik secara kultural lebih baik ketimbang secara hukum.
Baca juga : Dadakan, Mati Lampu Kaya Gempa Bumi
“Misal dikatakan air zam-zam itu adalah PDAM-nya Arab Saudi. Misalnya seperti itu. Jadi ini tidak akan selesai. Maka kami memanggil ke sini supaya ini reda dan jangan masuk ke wilayah hukum, tapi masuk ke wilayah yang sifatnya kultural.
Kita selesaikan persoalan ini antarsesama tokoh agama,” serunya. Untuk itulah, MUI memanggil Somad. MUI tak ingin eskalasi persoalan ini melebar hingga mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Apalagi, dalam situasi pasca Pilpres yang baru saja mulai sejuk. “Kita sedang ingin menjahit dan mendinginkan suasana. Kalau sudah begini, bagus sudah. Jangan kemudian melebar lagi,” harapnya. [OKT]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya