Dark/Light Mode

Kapasitasnya Lebih Kecil Dari Eropa Dan AS

Drainase DKI Tak Siap Hadapi Cuaca Ekstrim

Senin, 22 Februari 2021 06:00 WIB
Warga menjala ikan di ruas Tol TB Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (20/2/2021). (Foto: M Qori Haliana/RM)
Warga menjala ikan di ruas Tol TB Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (20/2/2021). (Foto: M Qori Haliana/RM)

 Sebelumnya 
Selain ruas jalan, berdasarkan data terakhir Sabtu (20/2) pagi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Provinsi DKI Jakarta mencatat sebanyak 193 RT dari 30.470 RT di Jakarta, terdampak banjir. Sebanyak 29 RW terdampak banjir berada di Jaksel, terdiri dari 44 RT, denganketinggian 40-150 cm dan terdapat pengungsi sebanyak 7 Kepala Keluarga (KK) dengan total 19 jiwa.

Sementara di Jakarta Timur (Jaktim) terdapat 50 RW terdampak, terdiri dari 143 RT, dengan ketinggian 40-180 cm, dan 372 KK dengan total 1.361 jiwa sedang mengungsi. Serta di Jakbar, sejumlah 4 RW dan 6 RT terdampak. Sehingga, total jumlah pengungsi di seluruh DKI sebanyak 379 KK dengan total 1.380 jiwa.

Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menilai, banjir Jakarta terjadi karena Pemprov tidak melakukanapa pun selama 3 tahun.

“Kecuali menjalankan program-program rutin, misalnya pengerukan waduk dan kali,” kata Gembong saat dihubungi, Jumat (19/2).

Baca juga : Pemerintah Komitmen Jaga Ketahanan Lingkungan Hidup Hadapi Perubahan Iklim

Gembong mengatakan, tidak ada program penyelesaian banjir yang bersifat permanen. Tak hanya itu, normalisasi atau naturalisasi yang dipamerkan Pemprov DKI Jakarta tidak pernah dieksekusi lantaran tidak ada kemauan.

“Sebab, normalisasi itu kan program pemerintahan sebelumnya, maka (Gubernur DKI Jakarta) Anies mewacanakan program barunya namanya naturalisasi, tapi di lapangan nggak dieksekusi juga,” sentilnya.

Menurut Gembong, Gubernur Anies Baswedan tersandera janji kampanye untuk tidak menggusur. Padahal, hal itu bisa menyelesaikan persoalan banjir sekaligus penataan permukiman.

“Padahal, kalau penataan permukiman di DAS (Daerah Aliran Sungai) dilakukan, maka dua pekerjaan sekaligus dapat dilaksanakan. Yakni, penanganan banjir dan penataan permukiman,” imbuhnya.

Baca juga : BMKG: Waspada, Pada 10-16 Februari Potensi Cuaca Ekstrem

Curah Hujan Tinggi

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Setda DKI Jakarta Yusmada Faizal mengakui, sistem drainase yang dimiliki DKI Jakarta hanya mampu menampung curah hujan kisaran 50-100 ml per hari. Sementara, intensitas hujan belakangan ini rata-rata di atas 100 ml per hari.

“Makanya kalau terjadi hujan ekstrem yang tadi 160, 130, meluap. Ilustrasinya 1 gelas berisi 100 ml, jika ditumpahi 150 ml, jadi meluap,” kata Yusmada.

Pemprov DKI Jakarta, lanjutnya, berupaya menyurutkan genangan air dalam waktu 6 jam. Hal ini sesuai dengan instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Baca juga : Eks Kakorlantas Djoko Susilo Polri Ajukan PK, KPK Siap Hadapi

“Yang paling penting saya sampaikan adalah sesuai arahan Gubernur, genangan cepat surut 6 jam, juga tidak ada korban,” tutupnya. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.